Laman

Belajar Langsung dari Sumbernya (Mormon)

Semasa SMA dulu, saya dan beberapa teman yang tertarik dalam hal agama merasa penasaran dengan keberadaan sebuah gereja yang lumayan besar di tengah kota, namun konon dikatakan sebagai salah satu bidat/sekte di kekristenan. Di dinding depan gereja itu tercantum namanya: Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir. Kata orang, gereja itu beraliran Mormonisme, suatu aliran yang sama sekali belum kami kenal. 

Didorong oleh rasa penasaran, kami bersepakat untuk mendatangi gereja tersebut untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dari sumbernya. Langkah kami itu tergolong nekad, karena di masa itu (mungkin sampai sekarang) sangat tabu bagi seorang jemaat awam, apalagi remaja-remaja seperti kami untuk "bergaul" dengan orang-orang kristen yang tidak sealiran dengan kami (aliran "mainstream" maksudnya). Oleh karena itu, kami ke gereja itu tanpa memberitahu siapapun. 

Sesampainya di sana, kami disambut dengan ramah oleh seorang "brother," sebutan untuk guru pembimbing di gereja itu, mungkin setara dengan pendeta muda. Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan, kami dipersilakan untuk masuk ke dalam salah satu ruangan untuk memulai "pelajaran." Pelajaran itu sendiri berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Seminggu sekali kami ke sana untuk belajar. Dalam prosesnya kami seringkali memperdebatkan tentang pokok-pokok ajaran gereja yang menurut kami tidak benar, misal seperti keberadaan kitab Mormon yang asli, karena di dalam kitab mereka hanya diperlihatkan lempeng-lempeng emas yang dituliskan "sejaman" dengan kitab Mormon yang ditemukan oleh Yoseph Smith, nabi sekaligus pendiri gerakan Mormon. 

Menurut penjelasannya brother itu (saya lupa namanya), sejarah aliran mormonisme dimulai ketika Yoseph Smith muda dibuat galau oleh berbagai aliran kekristenan yang ada pada masa itu. Masing-masing gereja/aliran menyatakan diri sebagai yang paling benar dan memintanya untuk bergabung dengan mereka. Suatu ketika, Yoseph Smith mendapat "pewahyuan" dari malaikat Moroni untuk menafsirkan kitab bangsa Mormon, yang konon adalah sebagian bangsa Israel yang melarikan diri ke benua Amerika di masa lalu. Yesus pun konon setelah terangkat dari antara murid-murid di Yerusalem sempat "mampir" ke kampung mereka di Amerika itu sebelum menuju ke surga. 

Minggu demi minggu kami datang ke gereja itu untuk mempelajari pengajarannya lebih mendalam. Setelah semua pelajaran terakhir, kami pun pamit kepada sang brother yang juga dengan ramah melepas kepergian kami. Tidak ada rasa permusuhan ataupun kebencian, meski kami menyadari ada cukup banyak perbedaan mendasar antara aliran tersebut dengan kekristenan pada umumnya. Sampai sekarang pun gereja itu masih berdiri dan beraktivitas dengan bebas tanpa resistensi fisik dari "mainstream." Di Amerika, para pengikut gerakan Mormon bahkan berperan aktif dalam kancah politik. 

Setelah pelajaran-pelajaran itu, saya dan teman-teman mengambil kesimpulan sederhana, yakni bahwa aliran Mormonisme itu adalah aliran yang "melenceng," alias tidak dapat disamakan dengan kekristenan pada umumnya, meskipun mereka menggunakan banyak simbol kekristenan dalam ibadahnya. Meski demikian, kami bersyukur mendapat kesempatan langka untuk bisa belajar langsung dari sumbernya. 

Kontemplasi

Lima tahun yang lalu, kantor kami mengadakan acara kebersamaan dengan berlibur ke pulau Tidung, salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Di Tidung, kami mengikuti berbagai aktivitas yang telah dipersiapkan oleh agen perjalanan, seperti bakar (dan makan) ikan, bersepeda keliling pulau, bersampan, bermain “Banana Boat” (1-4 orang menaiki semacam perahu karet berbentuk pisang yang ditarik dengan kapal cepat, yang melakukan manuver berbelok dengan cepat sehingga semua orang yang menaiki “kapal pisang” terlempar ke air), dan, yang paling berkesan bagi saya, snorkeling. Snorkeling adalah aktivitas “setengah menyelam” (memakai jaket apung) sambil melihat keindahan alam bawah laut yang mempesona. Dari semua aktivitas yang kami lakukan di pulau Tidung, satu-satunya yang membuat saya ingin kembali ke sana adalah snorkeling ini.

Snorkeling

Banana boat tentu seru dan menyenangkan, akan tetapi, snorkeling—setidaknya bagi saya—lebih dari sekadar menyenangkan. Snorkeling menyegarkan jiwa saya, karena melihat berbagai biota laut yang begitu indah dan agung. Serunya banana boat membuat adrenalin saya terpacu, tetapi nikmatnya snorkeling membuat hati saya terpaku. Ya, terpaku, kepada Dia, Tuhan, yang begitu sempurna menciptakan segala sesuatu—bahkan yang berada di tempat-tempat tak terlihat seperti biota bawah laut.

Saudara sekalian, kesibukan kita setiap hari barangkali dapat diibaratkan seperti bermain banana boat. Seru, menyenangkan, sekaligus menegangkan. Kita sibuk mengikuti berbagai aktivitas yang menjalin kebersamaan seperti persekutuan, pelayanan, dan sebagainya. Atau, kita mungkin menikmati serunya aktivitas elektronik, seperti bermain online game, bermedia sosial, menonton Youtube, dan semacamnya. Semuanya itu memang dapat bermanfaat dan membawa sukacita.

Akan tetapi, alangkah ruginya, apabila kita hanya “bermain banana boat” sepanjang hari, tanpa sekalipun meluangkan waktu untuk snorkeling! Kontemplasi atau waktu-waktu teduh bersama Tuhan seumpama aktivitas snorkeling. Tidak ada suara bising dari mesin kapal cepat apalagi knalpot dan klakson kendaraan di jalan raya. Tidak ada nada pesan masuk atau dering telepon. Hanya kita sendiri, mengagumi keindahan Allah. Mensyukuri anugerah-Nya, takjub akan karya tangan-Nya, terpukau oleh kekudusan-Nya, menikmati firman-Nya.

Saudara sekalian, ada teladan dari Tuhan kita yang barangkali sudah sering kita baca atau dengarkan. Saya ingin mengajak kita semua untuk menyelami firman-Nya yang tertulis dalam kitab Markus 1:21-39.

Di kampung halaman Petrus di Kapernaum, Yesus membuat mukjizat yang sangat menggemparkan, yakni mengajar dengan perkataan yang penuh kuasa dan mengusir setan tanpa berdoa ataupun membaca mantera. Fenomena yang belum pernah dijumpai itupun segera tersebar ke seluruh Galilea. Galilea pada masa Yesus adalah daerah “campuran,” yakni tempat dimana keturunan orang Yahudi yang kawin campur dengan bangsa asing tinggal (tentu saja, ada pula orang-orang Yahudi “asli” seperti Petrus).

Kabar tentang adanya Seseorang yang sanggup membuat mukjizat tentulah berita yang sangat dinanti-nantikan oleh mereka yang menderita penyakit dan kaum keluarganya. Maka tak heran, meski matahari telah terbenam, pintu rumah Petrus penuh dengan “pasien” yang antre, menanti untuk disembuhkan—dan benar-benar sembuh. Sungguh sebuah hari yang sibuk, seru, menyenangkan, sekaligus menegangkan! Kita bisa menduga apa yang terjadi selanjutnya. Apabila dua “keajaiban” di rumah ibadat bisa membuat seluruh penduduk kota datang, apalagi ditambah dengan mukjizat-mukjizat yang dilakukan Tuhan pada malam itu. Tak heran, orang-orang terus berdatangan dan mencari Yesus hingga keesokan paginya. Penyakit apalagi yang akan disembuhkanNya? Setan jenis apalagi yang akan diusirNya? Semua orang termasuk murid-murid pasti penasaran, keseruan apa yang akan mereka dapati pada hari itu. Semua orang, kecuali Yesus.

Markus mencatat, bagaimana pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus tentu juga menikmati sukacita mengusir berbagai penyakit dan roh jahat. Akan tetapi, keseruan yang memacu adrenalin tersebut tak membuatNya terhanyut. Ia tetap meluangkan waktu untuk berduaan dengan Bapa-Nya. Sang Anak tidak bisa tidak memiliki waktu-waktu khusus bersama Bapa. Dan, apa yang dilakukan Yesus ini bukanlah aktivitas untuk mengisi waktu luang, melainkan sebuah rutinitas. Ini tersirat dari betapa cepatnya para murid menemukan Dia.

Apa yang terjadi setelah para murid memberitahukan bahwa banyak orang telah menantikan kedatangan-Nya? Bukannya buru-buru kembali ke rumah Petrus, Yesus justru mengajak mereka untuk pergi memberitakan Injil ke kota-kota lain. Alasannya? “…karena untuk itu Aku telah datang." Waktu yang ditentukan Bapa bagi Yesus untuk mengajar dan membuat mukjizat di Kapernaum telah habis, dan sekarang waktunya untuk melanjutkan pemberitaan Injil ke kota-kota lain. Kita dapat meyakini, bahwa ini adalah hasil dari kontemplasi-Nya di tempat sunyi, bersama Bapa. Demikianlah Sang Guru Agung teladan kita itu mendasarkan aktivitas-Nya pada hasil kontemplasi bersama Bapa.

Bagaimana dengan kita? Berbagai tuntutan yang ada di pundak kita barangkali mengikat kita seperti tali dari kapal cepat yang mengikat banana boat yang kita tunggangi. Menyeret kita, dan acap kali, menceburkan kita ke laut kesibukan. Kita mungkin merasa bahwa waktu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu yang ada tidaklah cukup, mengingat berbagai tugas atau rencana-rencana kita. Atau, bisa jadi kita menjadi begitu terbiasa dengan keseruan dan keramaian, sehingga waktu-waktu sendiri justru terasa menyiksa. Sesungguhnya, saat-saat seperti inilah saat yang paling tepat bagi kita untuk snorkeling.

Datanglah kepada Bapa sekarang. Sebagaimana Sang Anak tidak bisa tidak bertemu dan disegarkan oleh Bapa-Nya, demikian pula kita, anak-anak-Nya, tidak bisa tidak datang kepadaNya dalam keheningan, dalam penyerahan diri, dalam kerinduan yang tak terkatakan. Mulai saat ini, sediakanlah waktu untuk berkontemplasi. Waktu untuk melihat apa yang ada “di dalam air.” Waktu untuk menikmati keindahan, keagungan, dan kekudusan, yang takkan dapat kita temui kecuali dalam sunyi. Di dalam keheningan itulah, suara-Nya dapat dengan jelas kita dengarkan, dan sentuhan kasih-Nya nyata kita rasakan.


Lebih dari itu, Tuhan sangat menyenangi waktu-waktu pribadi bersama kita. Tuhan rindu mencurahkan isi hati-Nya bagi kita. Tuhan sangat menantikan kita datang kepadaNya, seperti bapa dari anak yang hilang. Barangkali, itu sebabnya Dia memuji Maria, yang “telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya" (Lukas 10:42).

Revolusi Mental (Sedang Diupayakan) di DKI Jakarta

Sebelum menuliskan "uneg-uneg" di Kompasiana mengenai juru parkir yang menarik uang jasa parkir di luar ketentuan, saya lebih dulu mengajukan protes lewat Twitter kepada pihak terkait, seperti Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (@basuki_btp), Humas DKI Jakarta (@jakartagoid), dan UP Perparkiran DKI Jakarta (upparkirdki).

Isi kicauan-kicauan saya tersebut pada intinya sama dengan tulisan saya kemarin. Saya menceritakan kronologi kejadian dimana saya harus membayar tarif parkir dua kali lipat dari yang seharusnya di depan Gramedia Pasar Baru, Jakarta. Seharusnya, saya (dan pengguna parkir lainnya) cukup membayar sebesar dua ribu rupiah sekali parkir. Akan tetapi, pada waktu itu, saya hanya diberikan uang kembalian sebesar seribu rupiah dari uang sebesar lima ribu rupiah yang saya berikan, yang artinya saya harus membayar sebesar empat ribu rupiah.

Dalam kicauan-kicauan saya, saya lampirkan juga bukti pindaian dari dua karcis parkir "aspal" yang diberikan oleh si juru parkir nakal, yang mengaku "terpaksa" menarik jasa parkir lebih karena harus meyetor sejumlah uang kepada oknum Satpol dan polisi.
Keesokan harinya, saya mendapatkan "mention" dari @jakartagoid yang menyatakan terima kasih untuk laporan saya dan janji untuk meneruskannya kepada pihak terkait.
Lalu, tak lama setelah itu, saya kembali mendapatkan "mention", kali ini dari @upparkirdki, yang menyatakan tengah menindaklanjuti kicauan saya dengan disertai foto sebagai bukti. Sebagai catatan, foto juru parkir di foto yang dilampirkan oleh @upparkirdki bukanlah juru parkir yang saya ceritakan, tapi besar kemungkinan modus operandinya sama.
Saya mengapresiasi Pemprov DKI Jakarta, dalam hal ini UP Perparkiran, yang terbilang cekatan menindaklanjuti laporan dari masyarakat. Hal ini setidaknya menunjukkan, bahwa revolusi mental, sekalipun masih belum terwujud di sana-sini, sedang berusaja diwujudkan di wilayah kerja Provinsi DKI Jakarta.

Harapan saya tentunya adalah apabila suatu saat saya memarkirkan sepeda motor saya di depan Gramedia Pasar Baru, saya akan dikutip jasa parkir sesuai ketentuan (Rp 2.000,00) dan diberikan tanda bukti pembayaran berupa karcis parkir.

Oh iya, soal karcis parkir, sepertinya masih banyak juru parkir yang nakal dengan tidak memberikan tanda bukti pembayaran jasa parkir tersebut kepada pengguna jalan. Salah satu contohnya siang tadi di jalan Samanhudi. Setelah menerima uang jasa parkir dari saya, si juru parkir langsung berlari untuk memberikan aba-aba pada mobil yang juga hendak meninggalkan parkiran. Semoga dia bukan sengaja melakukannya atau hanya lupa.

Revolusi mental memang bukan hal yang mudah untuk diterapkan seperti membalikkan telapak tangan, tetapi memerlukan proses dan komitmen dari kita semua, baik dari Pemerintah, maupun dari masyarakat. Mungkin layanan-layanan publik seperti perparkiran masih jauh dari sempurna, namun itu bukanlah alasan untuk mengendurkan niat, melainkan justru seharusnya menjadi penyemangat kita, karena dari yang telah saya buktikan dan ceritakan lewat tulisan ini, Pemerintah DKI Jakarta setidaknya memiliki "will to be better".

Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya peluang yang sangat langka ini, karena tak semua daerah memiliki Pemerintah yang cepat tanggap seperti Pemprov DKI. Salah satunya, melaporkan ketidakberesan yang kita lihat atau alami terkait layanan publik di Ibukota, sebagaimana disarankan oleh @TMCPoldaMetro.
=============== P.S. Tulisan ini sudah saya unggah di Kompasiana, tapi karena tak bisa embed twit di sana, maka saya taruh di sini. Ya betul, blog sebesar Kompasiana tidak memfasilitasi embed twit! *facepalm

Kecewa dengan BOLT!

Salah satu keuntungan tinggal di Jakarta menurut saya adalah dapat menikmati lebih awal, layanan-layanan atau produk-produk barang atau jasa yang kelak bersifat nasional. Salah satunya adalah layanan internet 4G dari PT Internux dengan nama Thunder (prabayar) BOLT! Saya adalah salah satu pengguna awal dari layanan internet berkecepatan tinggi tersebut.

Selama ini, saya tidak memiliki banyak kendala dengan BOLT!, kecuali satu-dua kali gangguan sinyal karena memang ada kerusakan--atau memakai istilah operator, "peningkatan jaringan." Akan tetapi, apa yang saya alami hari Senin (26/1) kemarin berbeda. Beginilah kronologi kekecewaan saya terhadap layanan Thunder BOLT! yang juga sudah saya sampaikan dalam laman pengaduan konsumen di website Ombudsman dan Perlindungan Konsumen:

Pada hari Senin, 26 Januari 2015 sekitar pukul 21.00, saya mengisi pulsa BOLT! senilai total Rp 200.000,00 dengan tujuan untuk membeli kuota paket data internet dengan nilai yang sama.

Akan tetapi, pembelian yang saya lakukan melalui aplikasi Android maupun website BOLT! selalu gagal.

Saya lalu menelepon Customer Care dan dijawab, bahwa pulsa saya telah berkurang menjadi Rp 199.941,00 sehingga tidak bisa melakukan pembelian. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Kata Customer Care BOLT! per 17 Desember ada program internet "non-kuota", yang artinya, pelanggan akan dikenakan biaya per kb pemakaian internet, jika tidak memiliki kuota paket data.

Sebagai pelanggan lama, saya tidak pernah menerima pemberitahuan mengenai "program baru" tersebut, baik melalui e-mail, telepon, sms, atau surat.

Tidak ada solusi yang dapat diberikan oleh Customer Care, selain bahwa saya HARUS mengisi ulang pulsa lagi, yang harga termurahnya sebesar Rp 25.000,00; atau, membeli paket data dengan nominal yang lain.

Hal ini tentu saja sangat memberatkan dan merugikan saya sebagai konsumen. Dan, sangat besar kemungkinan hal serupa terjadi pula pada pelanggan BOLT! yang lain. Andai saya membeli pulsa lagi senilai Rp 25 ribu agar dapat membeli kuota sebesar Rp 200 ribu, maka ada saldo uang saya yang "tersangkut" di sistem BOLT sebesar Rp 24.941,00. Belum lagi pengguna-pengguna BOLT! yang lain.

Harapan saya, tentu saja, adalah agar ada penyelesaian yang bertanggung jawab dari PT Internux sebagai penyelenggara layanan internet BOLT! mengenai kendala yang saya miliki ini. Kembalikan Rp 59,00 saya, supaya dapat membeli paket data kuota Rp 200.000,00.

Saya juga berharap, agar pemakaian aplikasi Android BOLT! dan juga kunjungan ke website BOLT! TIDAK DIKENAKAN BIAYA, sebagaimana lazimnya perusahaan telekomunikasi penyedia jaringan internet lainnya.

Berikutnya, saya berharap agar tiap kebijakan baru diinformasikan kepada pelanggan, setidaknya melalui e-mail, sehingga tidak terjadi "kesalahpahaman." Saya percaya, PT Internux tidak memiliki maksud untuk "mengerjai" pelanggannya.

Screenshot dari Aplikasi Android BOLT!

Mengupas Kicauan SBY Tentang Perppu Pilkada

Pagi ini, mas PRI, alias Presiden Republik Indonesia, berkicau lagi di Twitter. Kali ini, SBY mengisahkan proses "kebulatan" Koalisi Merah Putih dalam mendukung Perppu Pilkada yang ditandatanganinya beberapa waktu lalu.
Jangan lupa ya, Pemerintah kabinet SBY lah yang mengajukan RUU Pilkada, yang kemudian membuahkan UU Pilkada, yang mengatur bahwa Kepala Daerah di tingkat Kabupaten-Kota-Provinsi dipilih oleh DPRD!
Oke, saya ingin (sok) menganalisa rentetan kicauan mas PRI pagi ini, dimulai dengan "Alhamdulillah". SBY membuat dua pernyataan yang "diam-diam menghanyutkan" di sini. Pertama, dia mengasumsikan bahwa publik mendukung Perppu Pilkada Langsung. Inilah kehebatan SBY, yakni membuat kalimat "seolah-olah". Publik sesungguhnya tidak peduli dengan keberadaan "Perppu", melainkan dengan "Pilkada Langsung" itu sendiri. Tapi, mas PRI menulis seolah-olah dia mendapatkan dukungan publik.

Berikutnya, dia dengan "cerdik" memainkan "frasa statistik" dalam kalimat kedua, yakni "sebagian kecil" masih ragu Perppu tersebut bisa lolos di DPR. Sebagian kecil? Seberapa kecil, Mas PRI? Inilah senjata keseolah-olahannya yang lain: kebenaran berdasar suara mayoritas. Seolah-olah "sebagian besar" lainnya meyakini bahwa Perppu itu pasti lolos di DPR.

Lagipula, mengapa repot-repot menjawab keraguan yang cuma sebagian kecil itu, SBY? Mas PRI kemudian mengisahkan mengenai tawar-menawar politik yang terjadi. Konon katanya, ia ditemui oleh Hatta Rajasa yang menginginkan PD bergabung dengan Koalisi Merah Putih di DPR dan MPR. SBY setuju dengan catatan, yaitu KMP menyetujui Perpu itu. BTW, masih ingat kan, bahwa Hatta Rajasa adalah besan dari SBY? Ingat ya, dalam skenario SBY, Partai Demokrat itu BUKAN bagian dari Koalisi Merah Putih. Nah, berikutnya adalah skenario bergabungnya PD dengan KMP. SBY tidak ingin partainya itu terlihat "murahan" tentunya. Kuncinya, PD harus nampak memperjuangkan rakyat sambil mengiyakan ajakan untuk bergabung ke KMP. Bagaimana caranya? PD mengambil posisi Roro Jonggrang, yang memberikan syarat-syarat untuk bisa dipersunting oleh Sangkuriang, eh, Bandung Bondowoso. Bedanya, Roro Jonggrang sesungguhnya tidak mau dinikahi oleh si Bandung Bondowoso, sehingga mengajukan persyaratan yang menurutnya mustahil dituruti.

Bukan. Bukan membuat Tangkuban Perahu, tentunya, tetapi membuat seribu candi dalam semalam.

Lain Roro Jonggrang yang dipinang oleh Bandung Bondowoso, lain pula Partai Demokrat yang dipinang oleh Koalisi Merah Putih. Yang terakhir ini sebenarnya malu-malu kucing saja. Seolah-olah harga dirinya mahal dan memperjuangkan rakyat. Coba kita lihat twit berikutnya:
WHAT? Dia bilang Pilkada Langsung (dengan Perbaikan) merupakan prioritas? Kalau benar begitu, kenapa mengajukan RUU Pilkada waktu itu? *puyeng*
Puyeng masih berlanjut di kicauan-kicauan berikutnya. Katanya, Sang Besan menyampaikan prasyaratnya ke KMP, dan mereka langsung, ehem, setuju. Setelah pengambilan suara sampai dinihari, tiba-tiba KMP setuju begitu saja dengan Perppu yang 180 derajat isinya dengan UU Pilkada? Tanpa syarat selain bergabungnya PD ke KMP? Oh iya, hingga sejauh ini, seolah-olah SBY dan partainya tidak ada hubungan dengan KMP selain Hatta Rajasa, yang menjadi "pembawa pesan"-nya ke Rapat Pimpinan KMP. Hmmm... benarkah begitu? Mari kita simak dua kicauan berikutnya: Hmmm... kenapa ya bukan Prabowo atau salah satu dari Ketum partai di KMP yang menelepon Ical yang sedang di luar negeri? Apa karena mas PRI dibayari pulsanya dari duit APBN? Pasti bukan itu alasannya lah. Yang jelas, si Roro Jonggrang lah yang sekarang sibuk menyemangati Bandung Bondowoso supaya segera menyelesaikan proyek seribu candinya.
Jadi sebenarnya siapa sih ketua atau koordinator Koalisi Merah Putih?
Akhirnya, "perjuangan" SBY demi rakyat pun menuai hasil. Dia menerima kesepakatan dan komitmen dari KMP untuk mendukung Perppu Pilkada Langsung di DPR secara hitam-putih. Demi rakyat, Roro Jonggrang "rela" bergabung dengan KMP. Kesepakatan itu pun ditandatangani oleh semua Ketum dan Sekjen, kecual PPP yang hanya Ketum. Loh, loh, loh, katanya Ical di luar negeri? Kok sudah ada tanda tangannya? Hmmm... Kalau bukan tanda tangannya dipalsu, ya mungkin saja luar negeri-nya Ketum Golkar itu tidak jauh-jauh amat. Ke Maladewa, misalnya. *ehem*

Berikutnya, mas Pri mencoba menjawab keraguan atas kesungguhan KMP. Dia percaya, KMP masih menyisakan sedikit etika untuk tidak melanggar kesepakatan mereka. "Saya percaya KMP," begitu tulisnya. "Apalagi," kicaunya lagi, "Perpu itu mewadahi kerisauan KMP terhadap hal-hal negatif dalam Pilkada Langsung." Tunggu dulu. Barangkali ada yang lupa, RUU Pilkada itu buah pemikiran dari Pemerintahan SBY, bukan KMP. Ini harus diingat betul-betul.

Lagipula, memangnya apa sih, "hal-hal negatif dalam Pilkada Langsung" itu? Kalau dibilang pemborosan, toh itu cuma di pihak peserta yang melakukan politik uang, bukan dari sisi APBD. Kalau dibilang menghasilkan Kepala Daerah yang korup, bukannya mayoritas berasal dari partai-partai, bukan calon independen? Lagipula, memangnya para Bupati, Walikota, dan Gubernur sebelum dibentuknya KPK itu bersih dari korupsi? Mas PRI bisa jawab?

Kicauan berikutnya, SBY menyinggung PDIP. Ini seperti membuka luka dalam drama Walkout ketika voting UU Pilkada. Kenapa? Karena pada waktu itu, semua partai di Koalisi Indonesia Hebat sudah menyetujui 10 syarat yang diajukan oleh Partai Demokrat agar mereka mendukung dibukanya opsi ketiga, yakni Pilkada Langsung dengan perbaikan. Persis seperti judul Perppu yang dikeluarkan belakangan. Akan tetapi, justru Fraksi PD walkout dari pengambilan suara dengan alasan tidak merasa didukung. Bagaimana, sudah super puyeng? Beberapa hari yang lalu, PD lah yang meninggalkan PDIP cs dengan Walkout, sekarang, ia membuat pernyataan seolah-olah PDIP dikhawatirkan akan menolak Perppu itu. Dan, seolah-olah dia percaya, bahwa PDIP tidak akan menolaknya.

Kicauan terakhir terkait Perppu Pilkada SBY pagi ini ditutup dengan kalimat positif. Lebih tepatnya, seolah-olah positif: Kira-kira SBY berkata, "Saya sudah menunjukkan komitmen bagi bangsa dengan membuat Perppu, sekarang tinggal DPR yang menunjukkan komitmen mereka dengan cara menyetujui Perppu itu."
Harapannya, tentu saja, agar publik "mengampuni dan melupakan" langkah Pemerintahannya yang mengajukan RUU Pilkada. Padahal, kabinetnya lah yang berinisiatif merampas suara rakyat untuk memilih Kepala Daerah mereka secara langsung!

Tapi sayangnya saya, dan saya harap "sebagian besar" sidang pembaca, menolak lupa.

Percakapan Terakhir

Panggung. 3 orang di atas salib. Prajurit-prajurit romawi berjaga-jaga.

Maria berlari dari belakang jemaat. Mendatangi jemaat satu demi satu.

Maria
(berseru)
Hei, lihatlah itu anakku, dia tidak bersalah. Tidak adakah di antara kalian yang mau bersaksi untuknya? Tidak adakah dari kalian yang mau mengupayakan pembebasannya? Dia tidak pernah melanggar hukum apapun, selalu jadi anak yang taat, dan tak pernah menolak membayar pajak! Bukankah kalian tahu itu semua? Bukankah dia di tengah kalian setiap hari? Bukankah hidupnya tidak tersembunyi? Dia tidak seharusnya menderita seperti itu, dan kalian tahu itu!

Gestas
Wahai, wanita, hentikan ocehanmu! Kau hanya menambah rasa sakit kami saja. Lagipula, jika benar anakmu ini orang sakti, tentu dia dapat menyelamatkan dirinya sendiri!

Dismas
Betul itu, hai ibu tua, berhentilah mengoceh! Anakmu disalibkan bersama kami oleh pengadilan Romawi yang paling adil sedunia, jadi mustahil dia tidak bersalah!

GESTAS
Betul itu, Dismas, tidak mungkin dia ada di sini kalau bukan penjahat seperti kita.

DISMAS
Sudah pasti, Gestas, sudah pasti dia sama jahatnya dengan kita, hahaha...haa...uhuk..uhuk (tertawa sampai terbatuk-batuk).

GESTAS
Hahaha...ha.. (tertawa lemas). Dia ini pasti tidak lebih jahat dari kita. Lihat saja, para algojo saja menyiksanya begitu rupa, sampai-sampai wajahnya tak menyerupai manusia lagi!

DISMAS
Iya, Gestas, tapi kabarnya dia bisa melakukan banyak mujizat, apa benar demikian?

GESTAS
Katanya sih begitu, Dismas. Hai, Yesus, benarkah kau ini orang sakti? Kalau benar, tunjukkan kesaktianmu sekarang dan turunlah dari salibmu itu, hahaha.

DISMAS
Ayo, Yesus, kami ingin tahu kesaktianmu, sekali saja sebelum kematian menjemput. Atau kau cuma penipu seperti yang lainnya?
Yesus pelan-pelan mendongakkan kepalanya dan terbatuk-batuk. Semua tiba-tiba terdiam

Yesus
(sambil memandang sekeliling)
Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. (terbatuk-batuk mengatur nafas)

Dismas memandangi Yesus dengan tatapan heran.

GESTAS
Hai, Yesus, jika engkau memang benar anak Allah dan Mesias, selamatkanlah dirimu dan kami!

DISMAS
Gestas, orang ini mungkin tidak seperti yang kita pikirkan. Seumur hidupku, tidak pernah kudapati penjahat yang mendoakan penganiayanya. Dan bukankah kita tak pernah melihat Yesus melakukan kejahatan seperti yang kita biasa lakukan?

GESTAS
Ah, kamu itu sudah mulai terkena virus pencitraan Yesus, Dismas, dia itu tidak mungkin disalibkan kalau dia tidak jahat.

DISMAS
Tidak, aku tahu membedakan orang jahat dan orang baik. Tetapi Yesus ini sangat berbeda. Dia bukan cuma baik, tetapi juga... Mulia! Dia memang tidak selayaknya disalibkan bersama kita, Gestas! (terbatuk-batuk)

GESTAS
Whatever you say lah, Dismas, toh hidup kita sebentar lagi berakhir. Dan aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku berdebat mengenai perkara sepele ini! (memalingkan muka)

DISMAS
Yesus, Yesus, dengarkanlah aku sebentar saja

Yesus mengangkat mukanya kepada Dismas

DISMAS
Yesus, aku percaya engkau adalah Mesias. Ampuni ketidaktahuanku tadi, dan ingatlah akan aku ketika Engkau datang sebagai Raja nanti.

YESUS
Aku berkata kepadamu, Dismas, sesungguhnya hari ini juga, engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam firdaus.


Tamat. Lampu redup.

Siap(a)kah saya ini, Tuhan?

Sebagai warga negara yang baik, Anda pasti tahu siapa itu Jenderal Besar Soedirman. Bagaimana jika saya menuliskan nama John Myung? Pasti tak banyak yang tahu, karena hanya penikmat musik cadas saja yang mengenal pemain bas grup rock Dream Theater itu. Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa ada dua tokoh yang sama sekali berbeda latar belakang, visi, maupun kemampuan saya sandingkan di dalam satu paragraf. Atau, Anda mungkin malah tak sadar dan tak peduli, hehehe.

Baiklah, daripada--setidaknya salah satu dari--sidang pembaca berlama-lama menyimpan rasa penasaran, saya akan memberikan kata kunci, mengapa kedua tokoh tersebut ada di paragraf pembukaan: 24 Januari. Ya, hari ini, dua puluh empat Januari dua ribu empat belas, almarhum Jenderal Besar Soedirman, John Myung, dan saya berulang tahun. Tentu saja, sayalah yang paling muda (salah satu cara agar selalu nampak muda adalah bersama orang-orang yang lebih tua, iya kan?), hehehe.

Pagi ini, saya diberkati oleh firman Tuhan dari Matius 7:12-23. Bagian tersebut diawali dari "Golden Rule" Tuhan yang sangat terkenal, "Apapun yang kamu inginkan orang perbuat padamu, perbuatlah demikian kepada orang lain." Bayangkan seandainya setiap orang di muka bumi ini menganut "Aturan Emas" itu. Mereka yang duduk di dalam bus dan KRL, misalnya, akan segera berdiri dan mempersilakan penumpang wanita atau yang lebih tua karena sadar, bahwa merekapun ingin diperlakukan demikian. Pejabat pemerintahan di daerah-daerah rawan bencana akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengurangi kemungkinan bencana karena sadar, mereka pasti juga tak ingin menjadi korban bencana akibat kelalaian pemerintah. Dan seterusnya.

Akan tetapi, siapa sih yang sanggup untuk bertekun di dalam kebaikan ala Aturan Emas itu? Saya pun rasanya tak sanggup. Seperti yang tertulis dalam Amsal, "Banyak orang menyebut dirinya baik, tetapi orang yang setia, siapakah yang menemukannya?" Saya hanya sanggup sesekali saja berbuat baik kepada orang lain. Mungkin ada yang sering berbuat baik, tetapi selalu? Sanggupkah kita selalu melakukan Aturan Emas itu? Mungkin itu sebabnya, Sang Guru Agung mengibaratkan hal itu sebagai pintu yang sesak dan jalan yang sempit, yang sedikit dilalui orang.

Saya sendiri mendapati lebih sering melalui pintu yang lebar dan jalan yang luar itu. Pintu dan jalan keegoisan. Jika dipersentase, mungkin 99% isi pikiran saya adalah tentang diri sendiri dan keluarga, bukan tentang orang lain. Rasanya saya lebih sering memilih pintu dan jalan yang ditawarkan oleh nabi-nabi kawe, alias non-ori, alias palsu itu. Mereka memberitakan hal-hal yang baik tentang kita, tetapi bukan Kabar Baik. Mereka menawarkan jalan-jalan menuju sukses, kaya, memiliki anak cerdas, dan seribu satu rute yang sesungguhnya ujungnya sama: kemuliaan diri sendiri.

Saya berpikir, jangan-jangan selama ini saya juga adalah bagian dari nabi-nabi palsu, yang mengerjakan pelayanan dan segala macam kegiatan pendukung kerohanian, namun sama sekali bukan demi mengerjakan kehendak Bapa, melainkan karena saya merasa nyaman di dalamnya. Jangan-jangan, pelayanan ini sekedar pelarian saya saja? Jangan-jangan kelak ketika saya berseru, "Tuhan, Tuhan, bukankah aku telah mengerjakan ini dan itu demi nama-Mu?" Tuhan akan menghardik saya dan menjawab, "Kamu siapa? Aku tak pernah mengenalmu. Pergi dari hadapanKu!"

Hari ini, saya merenungkan kembali banyak hal yang telah saya alami, terutama sejak pertama kali saya menjadi Kristen di kelas dua SMA. Sungguh sebuah perjalanan hidup yang panjang dan berliku di dalam Tuhan. Saya mengingat kembali, bagaimana pengalaman-pengalaman bersama Tuhan membuat hidup saya makin diperlengkapi. Iman saya makin dikuatkan. Namun di sisi lain, panggilan yang makin tajam gambarannya itu menumbuhkan ketakutan tersendiri, meski pimpinan dan "pintalan demi pintalan"-Nya nampak nyata membentuk pola di dalam hidup saya. Renungan dari Our Daily Bread hari ini juga mempertajam panggilan itu. Duh, siap(a)kah saya ini, Tuhan?

Biarkan Jokowi Bekerja

Jokowi adalah fenomena. Gubernur baru Jakarta yang secara dramatis dicalonkan, bertarung, dan terpilih sebagai pemimpin baru Ibukota bersama Ahok ini nyaris tak pernah lepas dari sorotan kamera (dan mikrofon) para pewarta. Ya, Jokowi telah menjadi "media darling," dan itu bukan tanpa alasan. Secara ekonomi, pemberitaan tentang Jokowi dan Ahok memiliki potensi besar mendulang jumlah pembaca, baik secara cetak maupun daring.

Apa yang membuat Jokowi begitu disukai masyarakat? Saya pikir sudah melimpah jawabannya, tinggal di-googling saja. Yang jelas, ada satu hal yang menonjol dari ayah dua putri ini: giat bekerja.

Ya, orang-orang dan media massa mungkin menyebutnya dengan istilah yang sangat terkenal itu: "blusukan." Akan tetapi, tidak semua orang yang blusukan itu benar-benar sedang bekerja. Dalam konteks Jokowi, blusukan cuma salah satu metode (utama)nya dalam bekerja, strateginya memetakan permasalahan di lapangan.

Sejauh pengamatan di lapangan dan di dunia maya, ada satu perbedaan besar antara kondisi Ibukota sebelum dan sesudah Jokowi menjabat. Di era "pra-Jokowi," hampir semua warga Jakarta menyebut nama Foke tiap kali menemui banjir atau macet. Dalam konteks negatif tentunya. Masyarakat meminta Foke yang kala itu menjabat sebagai Gubernur untuk (lebih giat lagi) bekerja. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ada keraguan bahwa Foke benar-benar bekerja, mengingat nyaris tak ada dampak nyata yang bisa dirasakan warga.

Hal yang berbeda sama sekali terjadi di era Jokowi. Macet dan (apalagi) banjir memang belum hilang dari daftar permasalahan Jakarta, namun setelah lebih dari satu tahun menjabat hingga saat ini, suara-suara masyarakat yang meminta pertanggung jawaban Gubernur hampir tak terdengar lagi. Mereka (dan saya) tahu, Gubernur kali ini bukan Gubernur-gubernuran, melainkan pemimpin Ibukota yang benar-benar bekerja, dan bahkan bekerja dengan giat.

Tentu saja, suara-suara sumbang selalu ada, bahkan di satu sisi, perlu ada. Ada pula kebijakan Jokowi yang saya pikir kurang tepat, seperti larangan memakai kendaraan pribadi ke kantor (atau kewajiban naik angkutan umum). Meski demikian, dukungan warga Jakarta (bahkan warga kota-kota lainnya di Indonesia!) terus mengalir kepada Jokowi. Beberapa kali saya mendapati komentar di media daring dari orang-orang di Kota X atau Provinsi Y yang menginginkan "tukar guling" kepala daerah dengan Jokowi.

Tak hanya di dalam negeri, Jokowi pun diberitakan di luar negeri. Sebuah portal berita India bahkan terang-terangan menjadikan Jokowi sebagai model Presiden India berikutnya. Malaysia pun menginginkan (sosok seperti) Jokowi. Pola kerjanya menjadi pembahasan di Universitas bergengsi di Amerika, Princeton University. Wakilnya, si Ahok, pun diwawancara Al Jazeera karena (barangkali) pertama kali di dunia, ada kepala daerah yang merekam dan mengunggah semua kegiatannya sehari-hari di Youtube Pemprov DKI. Jokowi benar-benar adalah fenomena.

Apesnya, masa jabatan Jokowi berhimpitan dengan jadwal pesta demokrasi di negeri ini: Pileg dan Pilpres 2014. Melejitnya popularitas Jokowi menjadi semacam petasan yang disulut di dekat telinga para capres yang telah mendeklarasikan diri itu. Apalagi, lembaga-lembaga survey yang bermunculan bak jamur di musim hujan itu memasukkan nama Jokowi ke dalam daftar capres--sekalipun Jokowi maupun PDIP belum pernah sekalipun bicara soal Pilpres. Ditambah pula dengan media yang dengan gegap gempita mengusung Jokowi dalam konteks Pilpres tersebut. Demi oplah dan rating Alexa tentunya.

Maka, semua mata dan telinga pun mengarah kepada Jokowi (dan PDIP). Semua ingin mendapatkan informasi dan pernyataan terbaru darinya. Jokowi lantas menjadi komoditas politik di negeri ini. Tim sukses (atau meminjam istilah wartawan istana, Tim Hore) para kandidat capres pun merasa perlu untuk "sedikit mengerem" popularitas Jokowi. Mereka tahu, jika benar terjadi Jokowi dijadikan sebagai kandidat calon presiden dari PDIP, perjuangan mereka akan mendekati sia-sia. Rakyat sudah terlanjur "kepincut" dengan Jokowi, yang dengan giatnya bekerja, menjanjikan perubahan nyata, daripada para kandidat capres yang notabene adalah "wajah-wajah lama" dalam kancah perpolitikan kita. Wajah-wajah lama yang tak begitu nyata kinerjanya.

Demikianlah Jokowi, mantan pengusaha mebel yang kemudian menjadi Walikota Solo, dan sekarang ini, Gubernur DKI Jakarta, "diberondong" dari berbagai sisi. Awak media tak henti-hentinya menanyakan kesiapannya menjadi calon presiden, pengamat-pengamat tak pernah jengah menilai Jokowi dalam konteks bangsa, dan lembaga-lembaga survey senantiasa menyertakan Jokowi sebagai salah satu kandidat capres setelah SBY, seolah-olah hasil survey mereka takkan valid tanpa ada nama Jokowi di dalamnya. Jokowi bak objek di bawah mikroskop yang sama-sama diamati.

Lantas bagaimana dengan Jokowi sendiri? Sejauh yang saya lihat, dia tak pernah ambil pusing dengan segala rumor atau perbincangan tentang kemungkinan dirinya dijadikan kandidat capres partainya. PDIP pun sejauh ini terkesan menjaga suasana kondusif saja untuk Pileg 9 April nanti. Jokowi tetap bekerja seperti biasa, bahkan lebih giat lagi. Ketika mereka yang menyerangnya dengan segala cara dan strategi mungkin sedang tertidur nyenyak, sang Gubernur ini misalnya, menyambangi dan memberikan bantuan kepada para pengungsi bencana banjir di wilayahnya. Ia tak ambil pusing dengan segala hasil survey yang melambungkan namanya. Yang jelas, ia diikuti oleh awak media, bukan mengundang mereka untuk mengikutinya.

Ya, Jokowi sejauh ini masih tetap sama, tetap giat bekerja, dan saya yakin masih bisa mempercayai ketulusan dan kerja giatnya untuk warga Jakarta. Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan bahwa jika anda tidak bisa mengatakan sesuatu hal yang baik, ada baiknya anda diam. Saya rasa ungkapan ini tepat pula kita terapkan dalam konteks bencana banjir yang sedang melanda ibukota saat ini: Jika anda tak bisa atau tak ingin membantu Jokowi serta para relawan meringankan beban para pengungsi serta mengurai permasalahan pelik Jakarta, maka ada baiknya anda diam saja. Dan Biarkan Jokowi bekerja.

25 Kata Sandi Terburuk di 2013

Sebuah perusahaan pengembang aplikasi pengelolaan kata sandi, SplashData, merilis daftar 25 kata sandi terburuk selama tahun 2013. Daftar ini mereka dasarkan pada data berisi jutaan kata sandi yang diretas sepanjang tahun lalu. Berikut daftar 25 kata sandi paling banyak dicuri sepanjang tahun 2013. Apakah milik Anda salah satu di antaranya?

1. 123456
2. password
3. 12345678
4. qwerty
5. abc123
6. 123456789
7. 1118111
8. 1234567
9. iloveyou
10. adobe123
11. 123123
12. admin
13. 1234567890
14. letmein
15. photoshop
16. 1234
17. monkey
18. shadow
19. sunshine
20. 12345
21. password1
22. princess
23. azerty
24. trustno1
25. 000000

Nah, itu semua daftarnya. Jika ada di antaranya yang merupakan kata sandi Anda di internet, segeralah ganti dengan kata sandi yang lebih aman. Gabungan huruf, angka, dan tanda baca (misalnya, "5by-4n1") biasanya sudah cukup aman digunakan sebagai kata sandi.

Salam internet (ny)aman!

Bonus:



Sumber: TIME

Orang Saleh Telah Habis


Tolonglah kiranya, TUHAN, sebab orang saleh telah habis,
                telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia.
Mereka berkata dusta, yang seorang kepada yang lain,
                mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang.
Biarlah TUHAN mengerat segala bibir yang manis
                dan setiap lidah yang bercakap besar,
dari mereka yang berkata: “Dengan lidah kami, kami menang!
                Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?”
(Mazmur 12:2-5)

Seperti pemazmur, kita pun sepertinya harus mendoakan hal yang sama. Negeri ini seolah-olah telah kehabisan orang saleh, alias orang yang hidup takut akan Tuhan. Demikian pula halnya dengan orang-orang yang setia, yang melakukan apa yang dikatakan atau dijanjikan, sepertinya sudah habis tak bersisa. Sosok yang hari ini kita percayai, besok atau lusa bisa saja ingkar janji.

Negeri kita seolah-olah dibangun di atas dusta. Para pemimpin nampaknya hanya mengedepankan retorika saja. Mereka tampil di layar kaca dengan kata-kata yang manis dan membuai pemirsa, namun pada kenyataannya, hati mereka mendua. Memperjuangkan rakyat hanyalah slogan bagi para pejabat. Di hati mereka, yang terutama adalah laba. Jabatan dan pengaruh adalah komoditas semata.

Mereka pikir, mereka bisa meloloskan diri dari kejahatan mereka dengan kelihaian bersilat lidah yang mereka miliki. Namun, mereka lupa, bahwa ada TUHAN yang menguasai lidah dan bibir mereka. Mereka telah terbuai dengan kesuksesan demi kesuksesan yang mereka raih lewat kepiawaian beretorika. Mereka lupa pepatah lama, “sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga.”

Ya, marilah kita berdoa agar TUHAN mengerat bibir dan lidah mereka. Kiranya DIA membalikkan fitnah mereka dan membongkar segala tipu daya yang mereka buat. Biarlah TUHAN menyatakan segala rancangan jahat mereka, sehingga lidah mereka menjadi kelu karenanya. Biarlah mereka tahu, bahwa ada TUHAN yang menjadi tuan atas hidup mereka. Kiranya TUHAN mendengar keluh kesah kita dan segera bangkit menentang mereka.

Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang lemah,
                oleh karena keluhan orang-orang miskin,
sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN;
                Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya.
Janji TUHAN adalah janji yang murni,
                bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.
Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya,
                Engkau akan menjaga kami senantiasa terhadap angkatan ini.
(Mazmur 12:6-8)

Menggagas Generasi Antikorupsi


Dalam sebuah percakapan di meja makan dengan pak Gideon Yung beberapa waktu silam, penulis tertarik dengan cerita beliau tentang sejarah terbentuknya ICAC—semacam KPK di Hongkong—karena beliau adalah saksi mata (dan bahkan salah satu penggerak, kalau penulis tidak salah ingat) gerakan mahasiswa yang memulai demonstrasi yang kemudian mengubah wajah Hongkong dari wilayah yang “super korup” menjadi salah satu kota paling bebas korupsi di Asia.
Waktu itu, tutur pak Yung, korupsi begitu merajalela di Hongkong, mempengaruhi hampir semua sektor dan semua lapisan masyarakat. Kalau di sini kita mengenal istilah “uang rokok”, maka di Hongkong pada waktu itu, mereka mempunyai istilah “uang teh”. Bahkan sopir ambulanspun takkan mau berangkat menjemput pasien gawat darurat sebelum diberi uang teh tersebut. Demikianlah, korupsi begitu membudaya dan memberatkan rakyat, terutama yang tak mampu mengakses layanan-layanan publik.
Dampak korupsi bukan tidak nyata, melainkan belum dikomunikasikan secara gamblang kepada masyarakat. Orang-orang awam mungkin hanya tahu bahwa makin bertambah tahun, harga-harga akan semakin mahal, apalagi harga bahan kebutuhan pokok menjelang hari-hari raya. Padahal, mahal dan sulitnya mengakses kebutuhan pokok itu acapkali bukan karena besarnya kesenjangan antara permintaan dan ketersediaan, melainkan kebijakan oknum pejabat yang mengutamakan keuntungan pribadi dan kroni-kroninya.
Selain itu, rasanya kondisi yang kita alami sekarang di Indonesia hampir sama dengan apa yang terjadi di Hongkong sebelum ICAC terbentuk pada tahun 70-an. Korupsi sudah membudaya, alias sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran. Seorang teman mengisahkan, bagaimana ia dan istrinya harus menyerahkan sejumlah uang terlebih dahulu kepada seseorang yang bertindak sebagai semacam makelar pekerjaan, hanya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan di bagian produksi di sebuah pabrik di Karawang, Jawa Barat. Tentunya, mereka bukan “korban” pertama dan satu-satunya dari budaya yang korup di situ.

Harga ketidakjujuran
No free lunch. Tak ada makan siang yang gratis, begitu istilahnya. Dunia kita tak mengenal istilah anugerah. Bahkan grasi yang semestinya cuma-cuma diberikan Presiden kepada narapidanapun ternyata harus “dibeli” dengan harga yang sangat mahal—entah sepengetahuan Presiden ataupun tidak. KPK dan para penggiat antikorupsi sepertinya juga melihat betapa dalamnya kita terpuruk ke dalam pusaran korupsi, sampai-sampai mereka memasyarakatkan istilah yang sesungguhnya ironis sekali: “Berani jujur, hebat!”
Ya, kejujuran menjadi begitu langka di negeri ini, sampai-sampai untuk melakukan hal yang seharusnya biasa itupun sudah dikatakan sebagai “berani” dan “hebat”!
Dalam bukunya yang berjudul “Kebenaran dan Transformasi: Sebuah Manifesto Bagi Bangsa-bangsa yang Sedang Sakit” (TCI & LINK, 2009), Vishal Mangalwadi memberikan contoh yang menarik tentang dampak kejujuran dan kepercayaan terhadap harga barang dari pengalamannya membeli susu sapi di sebuah peternakan di Belanda:

Kami masuk ke dalam ruang susu dan tak ada seorangpun di sana yang menjual susu. Saya mengira Jan (temannya di Belanda) akan membunyikan bel, tetapi ia hanya membuka keran, meletakkan buyung di bawahnya dan mengisinya. Kemudian ia menjangkau ke atas jendela dan mengambil sebuah mangkuk yang penuh berisi uang, mengambil uang dari dompet, meletakkan uang senilai 20 gulden ke dalam mangkuk, menaruh kembaliannya ke dalam sakunya, mengembalikan mangkuk itu, mengambil buyungnya dan kemudian melangkah pergi. Saya terbengong-bengong…

Vishal melihat betapa efisiennya sistem jual-beli tersebut, dan itu berkat kejujuran dan kepercayaan yang dijunjung tinggi. Jika tak ada kepercayaan, tulis Vishal, maka pemilik peternakan harus mempekerjakan penunggu toko, yang upahnya tentu dimasukkan ke dalam variabel ongkos produksi, sehingga para pembeli susulah, sebagai konsumen, yang harus membayarnya. Belum lagi Pemerintah yang harus mempekerjakan pengawas kualitas susu, yang mungkin juga mau menerima suap dari peternak sapi, yang mungkin juga tidak jujur dengan menambahkan air pada susu yang dijual. Dampaknya jelas, penurunan kualitas susu dan kenaikan harga susu yang signifikan. Susu yang seharusnya bisa dibeli oleh siapapun kemudian menjadi sebuah barang mewah karena mahalnya. Jika sudah demikian, mana mungkin mengharapkan generasi yang sehat dan pintar?

Kejujuran dan dunia pendidikan kita
Ungkapan “berani jujur, hebat!” bahkan menjadi ironi di dunia pendidikan kita. Seorang siswa yang bertobat lewat persekutuan di sekolah dan bergabung dalam kelompok kecil di Semarang pada suatu ketika bercerita kepada penulis, bagaimana ia dipanggil oleh guru BK di sekolah dan diberi “wejangan” tentang pentingnya kesetiakawanan di dalam Ujian Nasional. Ia dianjurkan untuk ikut mencontek saja. Sekolah yang seharusnya menjadi “kawah Candradimuka” untuk mencetak “Gatotkaca-gatotkaca” yang akan menyelamatkan bangsanya, justru berubah fungsi 180 derajat menjadi seperti sarang penyamun, tempat orang-orang belajar berbuat kejahatan. Generasi seperti apakah yang hendak dihasilkan oleh sekolah-sekolah seperti itu?
Dalam sebuah seminar mengenai pendidikan yang diselenggarakan oleh Kompas beberapa waktu lalu, Prof. Jalaludin Rahmat dengan jeli meringkas penyakit pendidikan di negara kita sebagai pendidikan yang mempertuhankan angka-angka. Institusi pendidikan kita terlalu sibuk mengejar nilai pelajaran, namun lupa menanamkan nilai-nilai kehidupan yang jauh lebih bermakna dan lebih luas serta lama dampaknya.
Memang, Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, nampaknya memberikan perhatian besar terhadap pengembangan karakter anak didik lewat penerapan kurikulum pendidikan antikorupsi. Akan tetapi, sungguhkah demikian? Pada kenyataannya, meskipun MK telah memutuskan bahwa UN yang ada saat ini bertentangan dengan Undang-Undang Dasar dan mewajibkan evaluasi ulang terhadap program tersebut, Pemerintah tetap saja bersikukuh menyelenggarakannya dari tahun ke tahun.
Jika Pemerintah saja “berani” melangkahi keputusan MK, yang tentu saja sebuah tindakan yang tidak etis dan bahkan melanggar hukum, bagaimana mungkin kita bisa percaya bahwa mereka sungguh-sungguh memperhatikan masalah karakter, moral, atau etika?
Atau mungkinkah Mendikbud tidak tahu seberapa besar implikasi kebijakan UN itu terhadap tata kehidupan dunia pendidikan di negeri ini? Masakan tidak tahu? Rasanya, Pemerintahlah yang lebih memilih untuk menutup mata, terhadap nilai-nilai yang “dikatrol” sedemikian rupa sehingga tak mencerminkan tingkat kecerdasan anak yang bersangkutan, atau terhadap guru-guru “lugu” yang senantiasa berada di dalam dilema antara memelihara integritas dan nilai pendidikan ataukah berkompromi demi kesuksesan anak didik dan akreditasi sekolah.

Kecurangan yang tersistem
Ketika penulis menjadi pembicara di sebuah sekolah menengah atas di Depok, seorang murid mengangkat tangannya ketika penulis bertanya, siapa saja yang pernah dituding sebagai orang yang munafik. Ketika diminta menceritakan pengalamannya dituding sebagai orang yang munafik, dia mengatakan bahwa hal itu dialaminya pada waktu mengikuti Ujian Nasional SMP, karena menolak terlibat dalam contek-mencontek yang dilakukan oleh teman-teman sekelasnya. Sungguh ironis. Yang membuatnya lebih ironis adalah, kegiatan contek-mencontek itu bukan lagi merupakan kegiatan yang sembunyi-sembunyi dilakukan, melainkan telah berkoordinasi dengan guru.
Kecurangan sudah tersistem dan dianggap wajar, konon untuk mencapai tujuan yang lebih mulia: nama baik sekolah dan kebahagiaan orang tua. Dan tak hanya berhenti sampai di situ, mereka yang menolak bekerja sama justru dianggap sebagai pengkhianat. Kita tentu belum lupa dengan kisah ibu Siami dan Alif putranya yang diusir dari kampungnya karena dianggap mempermalukan kampung dan menyusahkan teman-teman Alif di SD, karena laporan mereka mengenai adanya kecurangan di sekolah ketika ujian nasional.
Bayangkan saja jika anak-anak tersebut, biarpun mendapat berbagai teori tentang antikorupsi, melihat berbagai kecurangan yang ada dan dianggap biasa di sekitar mereka. Bayangkan, jika anak-anak itu beranjak dewasa dengan prinsip yang kacau tentang kebenaran tersebut, yakni bahwa kebersamaan lebih penting daripada kebenaran. Bukankah action speaks louder than words, tindakan itu lebih keras berbicara dibandingkan dengan kata-kata? Bagaimana mungkin prinsip-prinsip antikorupsi itu terinternalisasi dalam diri anak-anak didik, tanpa adanya keteladanan di sekitar mereka? Bagaimana bisa guru menanamkan nilai kejujuran, jika bahkan sejak masuk sekolah sudah ada kecurangan dalam penerimaan siswa baru, hingga untuk meluluskan siswa-siswinya, sekolah mengupayakan berbagai cara termasuk mendistribusikan kunci jawaban UN?
Memang, mungkin tidak semua sekolah dan guru akan melakukan kecurangan-kecurangan seperti itu. Akan tetapi, yang menjadi permasalahan di sini adalah, jika di sebagian institusi pendidikan didapati berbagai modus kecurangan tersebut, maka hampir bisa dipastikan bahwa hal yang sama bisa menular ke tempat-tempat lain. Jika penanggung jawab lembaga pendidikan dan staf pendidik tak memiliki pondasi yang kuat untuk menyelenggarakan pendidikan yang lurus, bisa-bisa yang terjadi adalah rasionalisasi, alias mencari alasan-alasan pendukung agar kecurangan-kecurangan yang dilakukan bisa “dimengerti.”

“PR” Kemdikbud
Kemdikbud haruslah memastikan bahwa mereka memang memiliki kesungguhan untuk membangkitkan generasi antikorupsi untuk memperbaiki negara ini. Program pendidikan antikorupsi jangan sampai sekedar menjadi proyek katebelece yang ala kadarnya, sekedar untuk memberikan kesan bahwa mereka peduli dengan pemberantasan dan pencegahan korupsi, atau malah hanya menjadi kegiatan alias proyek baru untuk menambah pundi-pundi pribadi oknum-oknum tertentu. Nilai-nilai antikorupsi yang hendak ditanamkan haruslah bukan sekedar pengetahuan secara kognitif anak didik saja. Lingkungan dan sistem pendidikan juga seharusnya dievaluasi dan disesuaikan demi mendukung internalisasi nilai yang ingin ditanamkan.
Oleh karena itu, subjek dari pendidikan antikorupsi seyogyanya bukanlah peserta didik (siswa/mahasiswa) saja, melainkan para pendidik, para pejabat  di semua institusi pendidikan, dan juga pejabat-pejabat di Kemdikbud, terutama yang posisinya rawan disalahgunakan. Sistem harus pula direvitalisasi. Birokrasi haruslah dibuat seefisien mungkin agar tak menyisakan celah untuk penyalah gunaan. Akan lebih baik jika langkah awalnya adalah mengevaluasi kembali pelaksanaan UN sebagaimana yang diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi. Lagipula, bukankah perubahan itu paling baik dimulai dari diri sendiri?

Peran keluarga
Di sisi lain, kebanyakan keluarga (baca: orang tua) di Indonesia sepertinya juga belum memahami akan krusialnya peran mereka bagi upaya pemberantasan korupsi. Padahal, semua koruptor itu bertumbuh di dalam keluarga-keluarga, sementara keteladanan tentang tindak-pikir antikorupsi paling efektif diberikan melalui keteladanan orang tua. Masih banyak yang berpikir bahwa fungsi orang tua sebatas mencukupi kebutuhan jasmani anak, menyekolahkan, hingga mencarikan jodoh bagi anak. Istilah yang menyebut anak sebagai “titipan Tuhan” secara sadar atau tidak ditafsirkan sebagai tanggung jawab yang lebih berkonotasi sebagai “beban,” bukannya sebagai anugerah karena dipercaya sebagai mitra Allah untuk “memenuhi bumi” dengan orang-orang baik, jujur, dan takut akan Tuhan.
Tak banyak pula keluarga yang melihat anak-anak dalam konteks kemasyarakatan ataupun kebangsaan. Kebanyakan keluarga di Indonesia masih menempatkan anak sebagai “aset” keluarga yang harus membahagiakan dan membanggakan orang tua maupun keluarga besarnya. Jika sudah begitu, maka bagaikan meletakkan mobil-mobilan di lintasan balap, demikianlah kebanyakan orang tua di negeri kita meletakkan anak-anaknya dalam sebuah alur kompetisi. Anak yang pintar akan sangat dibanggakan, sedangkan yang biasa-biasa saja akan terus dipacu supaya jenius.
Sekolah (dan tempat-tempat kursus) menjadi semacam karantina untuk menghasilkan output yang diinginkan keluarga. Cita-cita anakpun bisa “diintervensi” jika dianggap tidak “bonafit” atau tak bisa mengharumkan nama keluarga. Fenomena ini bahkan tak jarang terjadi di keluarga-keluarga Kristen yang konon dipanggil sebagai garam dan terang yang memberkati sekelilingnya. Anak-anakpun tumbuh dengan prioritas yang sempit: membahagiakan dan membanggakan keluarga. Bagaimana caranya? Menjadi “orang”, alias berhasil dalam menumpuk harta dan mendulang karir—tak peduli bagaimanapun cara mencapainya.

Peran gereja dan lembaga pendamping gereja
Di gereja, yang terjadi juga hampir sama. Meskipun acapkali menyerukan pentingnya kesatuan Tubuh Kristus, pada kenyataannya masing-masing “merek” gereja menjadi komunitas-komunitas yang eksklusif, yang meski mungkin tak terucap, memandang gereja lain sebagai kurang beriman, kurang alkitabiah, dan sebagainya. “Segala kemuliaan bagi Tuhan” sering diteriakkan, namun seolah-olah itu sekedar slogan. Karena pada kenyataannya, “segala kemuliaan” itu “dibajak” oleh gereja atau para pelayan Tuhan. Bukannya mencetak garam dan terang bagi masyarakat, gereja sering tergoda untuk menggarami dan menerangi dirinya sendiri.
“Memperlebar Kerajaan Allah” diartikan secara denotatif, yakni menambah jumlah kawanan domba—yang entah didapat dari mana—dan memperluas wilayah “kerajaan” gereja—tak peduli bagaimana cara melakukannya. Saling rebut jemaatpun tak terelakkan, termasuk menempuh jalan pintas untuk mengakali aturan agar pembangunan gereja segera dapat dilaksanakan. Sebuah gereja di Jakarta Timur—entah bagaimana caranya—mendapat izin dari Gubernur DKI sebelum ini untuk memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau. Warga setempat membawa permasalahan ini ke PTUN dan memenangkan kasus tersebut. Bagaimana gereja bisa turut berperan serta dalam pemberantasan korupsi, jika ia sendiri masih suka berkompromi?
Di gereja-gereja yang “lurus,” berapakah di antaranya yang memasukkan topik kebangsaan, khususnya mengenai pemberantasan korupsi, di dalam “kurikulum” pembinaan jemaatnya? Bagaimana pula dengan lembaga-lembaga kerohanian kristen lainnya seperti Perkantas, LPMI, PPA, PMK/PAK, dan lain sebagainya, sudahkah nasib bangsa ini menjadi pergumulan yang utama, terkhusus soal korupsi yang merajalela? Berapa banyak buku rohani bertemakan pemberantasan korupsi yang telah diterbitkan? Baik gereja maupun lembaga pendamping gereja, sudah adakah jejaring bersama yang secara khusus mengampanyekan gerakan antikorupsi di gereja-gereja hingga ke jalan-jalan raya? Seberapa intens diadakan seminar atau diskusi mengenai “tips dan trik” agar bisa terjun ke dalam dunia bisnis, politik, hukum,  dan pemerintahan tanpa harus tersandera sistem yang korup? Ataukah kita enggan meninggalkan nyamannya pola hidup asketisme yang mengejar kesalehan dan keselamatan pribadi semata?

Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!
Ada sebuah ungkapan yang terkenal dalam bahasa Inggris, “All that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing.” Kejahatan akan berkuasa ketika orang-orang baik tak berbuat apapun untuk melawannya. Terang takkan berguna jika diletakkan di bawah gantang. Garam juga takkan bermanfaat jika tak pernah ditaburkan ke dalam masakan. Firman Tuhan sendiri memberikan jaminan kepada orang percaya mengenai apa yang akan terjadi jika anak-anak-Nya bertindak proaktif dalam melawan tipu muslihat iblis, “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yak. 4:7). Ketundukan kepada Allah disandingkan dengan tindakan aktif untuk melawan iblis. Artinya, itu bukan pilihan, melainkan keduanya harus dilakukan secara simultan. Kita tidak bisa memproklamirkan diri tunduk kepada Allah, jikalau hanya sanggup berdiam diri ketika melihat iblis bekerja, merusak perikehidupan masyarakat dan bangsa kita yang, seperti mimpi rasul Paulus tentang penduduk Makedonia (Kis. 16:9), seakan-akan berseru kepada kita: “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!”

The Star and The Cross



In the quiet morning of March 25, 2013, my father passed away, just a few days before Easter. His health had been getting worse those days, and that morning, he was going to prepare himself for a medical check up on nearby medical center.

But apparently the Lord couldn’t wait any longer to dine with him.

And it really wasn’t a surprise for me. The Bible passage I read that morning was from Matthew 11:28, “Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest.” I kept asking what did the passage tell me, even on my way to my office. A phone call from my wife gave me the answer then. We took an afternoon flight to Semarang and got a cab to take us to Jepara, my father’s hometown.

There, in front of my aunt’s house where my father’s body was laid before the burial, I noticed two common marks on his headstone: a star to represent his birth date and a cross for the date of his death. In fact, most of the headstones in the cemetery use those symbols, which I believe, correspond to the birth and death of Christ.

I did feel the agony for his passing away, but the star and the cross the Lord had me to see brought more a relief. It was as if the Lord said to me, “Look at those symbols and be not dismayed, for your father is not dead, just as I am also alive.” In Jesus, we have not only the story of His birth, works, and death, but also of His rising from the dead.

The star and the cross, I believe, are symbols of God’s eternal plan. Most people believe that birth and death are in God’s hands, but they forget to ask, “Why? What’s God’s purpose to let one born at one time and die at another?” I believe, that God has found him faithful to the plan He’d planted in his heart. And I also believe, that it was a time God has appointed him to depart.

We will also depart later, and when I do, my headstone shall bear the marks of star and cross too.

“Jesus said to her, ‘I am the resurrection and the life. The one who believes in me will live, even though they die…”~John 11:25~

Father, o Father

Father, o Father,
Why did you call him so soon?
...
But promise me, will You,
that You'll keep him by Your side,
until someday we'll be together again?

Arranging Disorder



Have you ever seen any of Michael Jackson's concert? I believe you did. Not long after his misterious death, our television, as always, played his concert movies everyday.

MJ was truly one of greatest artists the world ever known. He sang, danced, and made great songs and marvelous choreographies. His latter talent was one I admire most.

If you ever seen any of MJ's concert, you'll find wonderful dancers running to any direction, like a chaos, but it was actually not. I didn't even realize it at first.

At my first impression, I didn't even know that they were dancing and thought that they were not good dancers! But after a while, I started to sense the artistic values of those chaotic choreographies.

A choreographer ordinarily will try to arrange his music and dancers as harmonious as he can. He'll try to arrange a "neat and clean" choreography.

As a choreographer, MJ should've done the same, and yet he chose not to. He wonderfully arranged a disorder-like choreography. Even it looked like a terrible disorder, it was actually a"neat and clean" show.

During those good and bad things I experienced in my life, I often thought that my life was a total mess. I thought my life lied in disorderliness.

But, as always, the new insight I gained from MJ's choreographies taught me something about God, the Great Choreographer. When I thought of a messy life, God actually arranged everything good for me.

His Word came to my mind, "And we know that all things work together for good to those who love God, to those who are the called according to His purpose." (Ro. 8:28).

Hence, I am convinced that though life doesn't seem smooth as I want it to be, God is working in it, and He never fails. In my eyes, those complicated stories of life are jumbling puzzles; but in His eyes, they are forming a beautiful and perfectly arranged scenery.

So whenever every things seem screwed up and you feel like giving up, just look up, and remind yourself that God is working it all in His kind intention for your good sake. God bless! :D

Ahok Against All Odds


Jakarta's new deputy governor has recently made more smiling faces amongst his citizens. As a matter of fact, the joy has been widening to the whole nation.

There are two videos uploaded to Youtube which show the meeting between mr. Basuki (also known as Ahok) with his subordinary officials from transportation and public works agencies. The recorded meetings clearly how Ahok strictly ordered his subordinates to cut off their budgets up to 25 percents.




He surely knows how corrupt the officials are, how they're used to misuse their authority to gain personal advantages. And now their new leader is "unfortunately" disagree with such fraud.

"Never be on the (outsorced) consultants' side. Be on your office's side!" Said Ahok with an assertive tone. It's been widely known that corrupt officials are collaborating with naughty consultants to rob the budget.

Ahok is surely against all odds.

As one of his voters, I'm very glad to know that I did vote for the right candidates. Both Jokowi (the governor) and Basuki, I believe, are the best leaders Jakarta has ever had. We even never found such leaders in the country!

I wish their leadership pattern would affect the rest of the leaders in Indonesia. We ought to pray that God would send us more serving leaders like them, who always put in mind that they're serving the people, and because of that, there's never a chance for them to gain personal advantages.

Meanwhile, let's support Jokowi dan Basuki to bring us "Jakarta Baru". The new Jakarta.

And perhaps, as most of us wish so, Indonesia Baru. :)

Merangkul Kearifan Lokal - Mampir di Atena (5)



Sekejap mampirnya Paulus di Atena ini memang sangat tepat menggambarkan sebuah pelayanan pengabaran Injil yang kontekstual, artinya, yang merangkul kearifan lokal. Paulus tidak serta-merta mengacungkan telunjuknya kepada orang-orang di Atena sembari berteriak bahwa mereka semua adalah orang-orang kafir. Selain tidak etis secara sosial, tindakan ekstrem seperti itu hanya akan menjadi blunder bagi berita yang ia bawa, sebaik apapun itu. Penolakan bukan saja hanya akan datang dari penduduk Atena, melainkan juga dari rekan-rekan sepelayanannya.

Meskipun kita baca bahwa penyembahan berhala yang ada di Atena membuat Paulus sangat bersedih dan bahkan gusar, ia tak lantas menolak mentah-mentah semua "produk budaya" bangsa pagan itu. Memang, penyembahan berhala haruslah ditinggalkan karena tidak sesuai dengan iman Kristen, akan tetapi kita membaca bahwa Paulus tidak segan mengutip pernyataan pujangga Yunani yang selaras dengan kitab suci. Di sinilah perlunya pimpinan Roh Kudus agar hikmat Tuhan sendirilah yang memimpin kita dalam memilih dan memilah, manakah dari produk-produk tradisi dan budaya yang masih bisa dipertahankan dan manakah yang harus ditinggalkan karena tak bersesuaian dengan kitab suci.

Tanpa pimpinan dan hikmat dari Roh Kudus, kita bisa terjatuh pada sikap ekstrem, yakni menolak sama sekali semua produk budaya setempat, mencapnya sebagai budaya yang tidak alkitabiah, lalu berupaya menggantinya dengan produk budaya kita yang kita anggap lebih rohani, alias lebih berkenan di hadapan Tuhan. Sebaliknya, kita juga bisa tanpa sadar terperangkap ke dalam sikap ekstrem lainnya, yakni mengaminkan begitu saja semua tradisi dan kebudayaan setempat dengan alasan bahwa Tuhan juga berkarya di kebudayaan-kebudayaan masyarakat pagan. Memang benar bahwa Tuhan pastinya punya andil dalam tiap kebudayaan, namun bukan berarti bahwa semua produk budaya berasal dari Tuhan, bukan?

Roh Kudus akan menolong kita, pertama-tama untuk memiliki sikap yang tepat dalam menghadapi tradisi atau kebudayaan "lain", dan setelah itu, untuk memilah mana saja produk budaya yang bisa diterima--entah mentah-mentah ataupun dengan sedikit perubahan di sana-sini--dan mana saja tradisi dan budaya yang, karena tak bersesuaian dengan firman Tuhan, harus ditolak. Tradisi suku di pedalaman Papua yang membuang anak yang buruk rupa ketika lahir , misalnya, haruslah diupayakan agar tidak dilestarikan, alias dihentikan/dihapuskan. Demikian pula, misalnya, dengan kebiasaan berpesta yang berlebihan yang telah menjadi tradisi di sebagian kebudayaan negeri ini.

Setiap daerah pasti memiliki kearifan lokalnya sendiri yang bisa dirangkul sebagai jalan masuk untuk memperkenalkan kebenaran. Jika rasul Paulus menggunakan kutipan pujangga setempat yang dihormati untuk menjembatani jurang komunikasinya dengan penduduk Atena, lantas apa ya kira-kira kearifan lokal di tempat kita masing-masing, yang bisa digunakan untuk memperkenalkan Kabar Baik itu kepada para orang-orang di sekitar kita?