Laman

Belajar Langsung dari Sumbernya (Mormon)

Semasa SMA dulu, saya dan beberapa teman yang tertarik dalam hal agama merasa penasaran dengan keberadaan sebuah gereja yang lumayan besar di tengah kota, namun konon dikatakan sebagai salah satu bidat/sekte di kekristenan. Di dinding depan gereja itu tercantum namanya: Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir. Kata orang, gereja itu beraliran Mormonisme, suatu aliran yang sama sekali belum kami kenal. 

Didorong oleh rasa penasaran, kami bersepakat untuk mendatangi gereja tersebut untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dari sumbernya. Langkah kami itu tergolong nekad, karena di masa itu (mungkin sampai sekarang) sangat tabu bagi seorang jemaat awam, apalagi remaja-remaja seperti kami untuk "bergaul" dengan orang-orang kristen yang tidak sealiran dengan kami (aliran "mainstream" maksudnya). Oleh karena itu, kami ke gereja itu tanpa memberitahu siapapun. 

Sesampainya di sana, kami disambut dengan ramah oleh seorang "brother," sebutan untuk guru pembimbing di gereja itu, mungkin setara dengan pendeta muda. Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan, kami dipersilakan untuk masuk ke dalam salah satu ruangan untuk memulai "pelajaran." Pelajaran itu sendiri berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Seminggu sekali kami ke sana untuk belajar. Dalam prosesnya kami seringkali memperdebatkan tentang pokok-pokok ajaran gereja yang menurut kami tidak benar, misal seperti keberadaan kitab Mormon yang asli, karena di dalam kitab mereka hanya diperlihatkan lempeng-lempeng emas yang dituliskan "sejaman" dengan kitab Mormon yang ditemukan oleh Yoseph Smith, nabi sekaligus pendiri gerakan Mormon. 

Menurut penjelasannya brother itu (saya lupa namanya), sejarah aliran mormonisme dimulai ketika Yoseph Smith muda dibuat galau oleh berbagai aliran kekristenan yang ada pada masa itu. Masing-masing gereja/aliran menyatakan diri sebagai yang paling benar dan memintanya untuk bergabung dengan mereka. Suatu ketika, Yoseph Smith mendapat "pewahyuan" dari malaikat Moroni untuk menafsirkan kitab bangsa Mormon, yang konon adalah sebagian bangsa Israel yang melarikan diri ke benua Amerika di masa lalu. Yesus pun konon setelah terangkat dari antara murid-murid di Yerusalem sempat "mampir" ke kampung mereka di Amerika itu sebelum menuju ke surga. 

Minggu demi minggu kami datang ke gereja itu untuk mempelajari pengajarannya lebih mendalam. Setelah semua pelajaran terakhir, kami pun pamit kepada sang brother yang juga dengan ramah melepas kepergian kami. Tidak ada rasa permusuhan ataupun kebencian, meski kami menyadari ada cukup banyak perbedaan mendasar antara aliran tersebut dengan kekristenan pada umumnya. Sampai sekarang pun gereja itu masih berdiri dan beraktivitas dengan bebas tanpa resistensi fisik dari "mainstream." Di Amerika, para pengikut gerakan Mormon bahkan berperan aktif dalam kancah politik. 

Setelah pelajaran-pelajaran itu, saya dan teman-teman mengambil kesimpulan sederhana, yakni bahwa aliran Mormonisme itu adalah aliran yang "melenceng," alias tidak dapat disamakan dengan kekristenan pada umumnya, meskipun mereka menggunakan banyak simbol kekristenan dalam ibadahnya. Meski demikian, kami bersyukur mendapat kesempatan langka untuk bisa belajar langsung dari sumbernya.