Laman

Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan


Roma 12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!



Dalam film-film silat Mandarin jaman dulu, kebanyakan ceritanya berkisar pada tokoh utama yang ketika kecil terpaksa harus kehilangan keluarganya karena dibunuh oleh penjahat yang bengis. Anak kecil tersebut kemudian mendalami kungfu atau jurus-jurus silat tertentu sampai menjadi seorang pesilat yang tangguh, dan biasanya tujuannya hanya satu: untuk membalas dendam.


Balas dendam, ya, siapa sih yang tak ingin dendamnya dibalaskan? Ketika ada orang yang menyakiti kita atau keluarga kita, atau orang-orang yang memiliki kedekatan dengan kita, entah bagaimana, muncul perasaan jengkel, marah, dan benci kepada orang-orang yang telah berbuat zalim tersebut. Perasaan ini rasanya seperti api yang berkobar-kobar di dalam hati kita, sehingga hati kita menjadi panas setiap kali berpapasan atau bertemu atau bahkan mendengar nama si zalim itu disebut.


Tapi sebenarnya siapa sih yang dirugikan dengan adanya dendam itu? Pasti kita sendiri kan? Itulah sebabnya ia sering disebut "sakit hati." Hati yang tadinya sehat dan baik-baik saja, kemudian menjadi sakit karena perkataan atau perbuatan seseorang yang menyerang ataupun merugikan kita. Hati kita pun terluka, menjadi sakit rasanya. Dan, karena dosa, kita secara salah berpikir bahwa satu-satunya cara agar hati kita itu sembuh adalah dengan membalas dendam. Kita ingin membuat si zalim itu merasakan rasa sakit yang seperti kita alami, bahkan kalau perlu kita gandakan rasa sakit itu. Kita pikir, hati kita akan dipuaskan dan dipulihkan setelah itu, tapi faktanya tidak.


Contoh nyata adalah tawuran yang terjadi antar sekolah. Siswa sekolah A mungkin akan merasa puas ketika pada suatu kesempatan mereka berhasil memenangkan tawuran itu. Akan tetapi, siswa sekolah B pastinya tidak tinggal diam. Kelak, mereka akan membuat serangan yang lebih hebat, bahkan mengajak sekutu dari sekolah lainnya lagi. Tawuran berikutnya takkan terhindarkan, dan perdamaian itu takkan pernah tercapai. Menyakiti orang yang menyakiti kita takkan menyelesaikan masalah, tetapi justru memperpanjang durasinya.


Pada dasarnya, ketika kita membalas kejahatan dengan kejahatan, itu artinya kita sudah kalah dengan kejahatan. Itulah yang dikatakan firman Tuhan. Ketika seorang tokoh utama membunuh musuh yang telah membunuh kaum keluarganya, sebenarnya ia menjadikan diirnya sama jahat dengan si musuh. Tiap negara pasti punya aturan hukum yang akan menghukum setiap penjahat atas kejahatannya, sehingga apa yang dilakukan oleh si tokoh utama bisa dikatakan sebagai tindakan "main hakim sendiri." Lagipula, apa yang akan terjadi seandainya si musuh ternyata memiliki keturunan yang kemudian juga ingin membalas dendam atas kematian ayahnya? Pasti film-nya bisa sepanjang sinetron "Tersanjung" atau "Cinta Fitri!"


Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Roma yang pada masa itu sedang mengalami penganiayaan yang hebat karena iman mereka agar tidak kalah dengan kejahatan, melainkan mengalahkan kejahatan itu dengan kebaikan. Hal ini sama dengan perintah Tuhan Yesus untuk memberikan pipi kanan kita setelah pipi kiri kita ditampar. Artinya, kita sebagai orang beriman tidak dianjurkan untuk membalas dendam, yang sama artinya dengan membalas kejahatan dengan kejahatan. Pembalasan dendam adalah bukti bahwa kita telah dikalahkan oleh Iblis yang menggoda hati kita untuk melakukan kejahatan.


Nah, bagaimana caranya agar kita dapat mengalahkan kejahatan? Firman Tuhan menyebutkan satu-satunya cara, yakni dengan kebaikan. Ada sebuah cerita tentang seorang pemungut pajak yang sangat curang bernama Zakheus, yang kemudian berubah 180 derajat menjadi seorang yang baik. Apa yang membuatnya berubah? Salah satunya adalah karena Tuhan Yesus telah menunjukkan kebaikan kepadanya dengan singgah di rumahnya. Sepanjang sejarah bangsa Israel, seorang tukang pajak dianggap pengkhianat bangsa, dan oleh karena itu sangat dijauhi karena dianggap berkomplot dengan penjajah Romawi. Jangankan seorang Guru besar seperti Tuhan Yesus, masyarakat biasa pun enggan bergaul dengannya.


Apa yang kemudian terjadi setelah Tuhan Yesus singgah di rumah Zakheus? Pertobatan! Hal itu menunjukkan bahwa kejahatan-kejahatan Zakheus telah lenyap, dikalahkan oleh kebaikan Tuhan Yesus yang mau menemui dia, yang menganggap dia berharga. Seandainya Tuhan Yesus tidak singgah di rumah Zakheus itu, mungkin dia akan tetap menjadi pemungut pajak yang curang dan memeras rakyat. Tuhan Yesus telah mengalahkan kejahatannya itu dengan kebaikan.


Bagaimana dengan kita? Adakah di antara kita yang masih suka menyimpan dendam? Kita harus belajar menanggalkan dendam itu, sakit hati itu. Sebaliknya, kita harus belajar untuk menunjukkan kebaikan kepada orang-orang yang mungkin menjahati kita. Siapa tahu, orang itu justru akan bertobat karena kita, dan bahkan menjadi sahabat terbaik kita sampai tua? Kalaupun dia tidak bertobat seperti Zakheus, paling tidak kita telah mencegah meluasnya kejahatan. Dan seperti sabda Tuhan Yesus, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Matius 5:9), maka kita yang telah mengupayakan perdamaian dengan kebaikan kita akan menjadi orang-orang yang berbahagia, karena diakui sebagai anak-anak Allah! Selamat mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar