Laman

Membangun Kepercayaan Diri dalam Menulis

KITA mungkin ingin sekali mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran kita, namun entah mengapa tak sanggup menggelontorkannya ke dalam sebuah tulisan. Sebagian dari kita bahkan merasa minder alias tidak percaya diri ketika diminta untuk menulis. Kita sudah pernah mencoba sebelumnya, dan ternyata tidak begitu sukses. Atau, kita sama sekali belum pernah mencobanya karena telah berpikir bahwa kita takkan bisa melakukannya.

Kebanyakan di antara kita yang minder untuk menulis biasanya sudah memiliki “standar” sendiri untuk sebuah tulisan yang bagus. Mungkin itu tulisan seorang budayawan, sastrawan, atau bahkan tulisan seorang teman. Kita merasa bahwa kita tak bisa menulis sehebat mereka. Nah, itu salah satu masalahnya. Kita terlanjur meletakkan batu pijakan yang terlalu tinggi untuk kita sendiri, sehingga untuk langkah pertama saja rasanya berat sekali. Padahal, tiap penulis punya keunikannya sendiri-sendiri, termasuk kita.

Kita mungkin terlalu mengagumi tokoh penulis tertentu yang di mata kita begitu piawai dalam merajut kata demi kata dan kalimat demi kalimat menjadi sebuah kesatuan tulisan yang menarik untuk dibaca. Akibatnya, kita tak hanya terinspirasi, melainkan juga terbebani secara tidak sadar untuk menghasilkan kualitas tulisan yang paling tidak setara dengan tulisan-tulisan sang idola. Kita mulai menulis, tapi lebih sering kita menghapusnya. Kita ingin menggambar sebuah lukisan Monalisa yang benar-benar seperti aslinya. Dan, itu mustahil dilakukan.

Langkah pertama yang perlu dilakukan agar kita percaya diri dalam menulis adalah mengganti batu pijakan itu. Kita harus bisa dan mau menurunkan standar kita sendiri. Dan, standar mendasar dalam sebuah tulisan adalah “keterbacaan,” hanya itu saja. Selama orang lain bisa membacanya, dalam artian memahami apa yang hendak kita sampaikan, itu sudah cukup. Masalah gaya bahasa, plot, dan berbagai pengembangan lain bisa kita pelajari sambil jalan.

Yang berikutnya, kita harus menyadari bahwa tiap orang dibekali dengan bakat yang unik, termasuk dalam menulis. Ada orang yang bisa menuliskan kata-kata yang puitis namun lemah dalam penyampaian ide lewat artikel, ada pula sebaliknya. Ada orang yang kuat dalam deskripsi atau penggambaran suasana, sifat, bentuk, atau ruang tertentu, dan ada pula yang kuat dalam hal penyampaian narasi atau urutan kejadian tertentu.

Mungkin kita bukanlah tipe penulis yang “resmi” seperti tertera pada kolom-kolom opini di surat kabar. Bukan masalah besar. Mungkin juga kita bukan tipe penulis yang bisa berpanjang-panjang dalam penulisan. Itu juga bukan dosa. Penulis-penulis besar pun punya karakteristik mereka sendiri. Bahkan, dalam aspek tertentu, yang membedakan kita dengan para penulis besar itu hanyalah upaya “ekstra” yang mereka lakukan, antara lain meneliti dan membandingkan berbagai informasi dan merangkainya dalam sebuah tulisan, atau mengirimkannya ke berbagai penerbit dan media massa!

Jadi, tak ada alasan untuk tidak menulis, kecuali kita memang tidak menganggapnya penting atau malas berusaha. Saya tetap percaya bahwa semua orang yang bisa membaca, sejatinya adalah para penulis, atau setidaknya, calon penulis besar!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar