Laman

Instagram Kehidupan


Lingkungan kumuh yang diperindah dengan Instagram

Jika anda belum tahu apa itu Instagram, dia adalah sebuah aplikasi olah gambar yang paling banyak digunakan oleh pengguna media sosial saat ini. Dengan aplikasi ini, gambar-gambar yang tertangkap oleh kamera ponsel kita bisa "didandani" sedemikian rupa sehingga nampak indah. Dan, penggunanya tak butuh keahlian khusus untuk itu.

Pada dasarnya, Instagram menambahkan efek-efek tertentu pada gambar objek yang tertangkap kamera kita untuk kemudian dipamerkan kepada khalayak ramai (teman-teman di Facebook, pengikut di Twitter, dsb.).

Dalam kehidupan sehari-hari, kitapun memiliki "Instagram" masing-masing. Sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang Mahaindah, kita tentu juga memiliki ketertarikan pada keindahan. Kita tak begitu suka dengan hal-hal yang tidak sedang dipandang dan berusaha menjauhi atau membuatnya menjadi enak dilihat. Kita kemudian menciptakan "Instagram-instagram kehidupan" untuk mewujudkannya.

Tak butuh waktu lama bagi kita untuk tenggelam dalam efek-efek yang sesungguhnya sama sekali berbeda dari objek. Kita kemudian mengejar berbagai sensasi, bukannya esensi. Kita mencoba untuk menghibur diri sendiri dengan berbagai perkataan yang menyejukkan hati. Sadar ataupun tidak, kita belajar untuk mengingkari realitas yang sebenarnya dan terseret ke dalam realitas rekaan yang membuat kita lebih nyaman.

Kita mendambakan hidup yang indah dan penuh romantika, sementara kita sendiri sadar bahwa kondisi dunia yang kita diami ini (sangat) jauh dari harapan ideal itu. Alih-alih belajar untuk merangkul manis-pahit kehidupan, kebanyakan kita lebih suka memakai "Instagram kehidupan". Kita mungkin sadar bahwa itu hanya membantu kita untuk mengingkari realitas dan bukan mengubahnya, namun kita seolah telah kehilangan daya dan terlanjur merasa nyaman dengannya.

Di luar, kita nampak sebagai pribadi yang menyenangkan, tegar, dan patut menjadi teladan. Akan tetapi, orang-orang tidak tahu betapa sering kita menangisi kemalangan hidup kita ketika kita sedang sendirian. Orang mungkin melihat kita sebagai sosok yang alim dan beriman teguh, namun apakah mereka tahu bagaimana keseharian hidup kita, terutama ketika berada seorang diri?

Kita punya banyak koleksi kata-kata mutiara (termasuk ayat-ayat dari kitab suci) yang bisa kita kutip setiap saat untuk mengundang decak kagum orang lain, kita menyimpan ribuan senyum dan tawa di dalam bibir kita agar orang lain mengagumi ketegaran kita dalam menjalani hidup. Akan tetapi, adakah itu semua keluar dari dalam hati ataukah sekedar "Instagram kehidupan," hanya kita dan Tuhan sendiri yang tahu.

Instagram memang aplikasi yang sangat bagus, namun bukan berarti harus digunakan tiap kali kita memotret sebuah objek. Ada kalanya kita harus melepaskan kamera itu dan memandang dunia ini dengan mata yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Memang ada kalanya, orang-orang hanya perlu memandang hasil Instagram-nya saja, namun bukan berarti semua gambar yang kita tampilkan di hadapan publik harus seindah hasil olahan Instagram.

Bagaimanapun juga, kenyataan itulah yang lebih mendasar dan semestinya lebih bernilai, karena tanpanya, Instagram tak bisa berbuat apa-apa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar