Laman

Hidup Itu Sekedar Mampir Minum


Suasana Katedral di Jumat pagi itu begitu teduh. Matahari masih belum begitu meninggi ketika aku melangkahkan kakiku ke dalam gedung yang letaknya berseberangan jalan dengan masjid Istiqlal itu. Belum banyak orang yang datang, tentu saja karena hari itu bukan hari Minggu.

Aku masuk lewat pintu samping. Di dalam, hanya ada dua-tiga orang yang ada di dalam. Berdoa. Aku berjalan melewati deretan kursi panjang yang banyak, mencari tempat yang cukup nyaman untuk berdoa pula. Begitu duduk, kesunyian langsung menyergapku. Bukan kesunyian yang mengerikan seperti di film-film horor, namun kesunyian yang menenangkan. Rasanya semua kebisingan yang ada di dalam kepalaku langsung terdiam, seperti sirnanya tangisan bayi begitu ia didekap ibundanya.

Akupun segera terhisap ke dalam "kesunyian bundawi," kesunyian Ilahi itu. Seluruh isi hati tertumpah tanpa ragu ataupun malu, karena aku tahu, bahwa aku sedang mengadu kepada Pribadi yang mengasihiku bahkan semenjak dosa-dosa masih mengotori jiwaku, semenjak aku masih memusuhiNya dalam keliaranku, dalam ketidaksadaranku.

Selepas berdoa, aku baru menyadari bahwa ternyata kesunyian itu tak sendiri. Ada keriuhan yang berasal dari langit-langit gereja, yang ajaibnya, bukannya memecah kesunyian, suara-suara itu justru menambah khidmat dan syahdunya suasana. Suara-suara itu berasal dari burung-burung gereja yang memuji Tuhan dengan cara mereka sendiri. Sungguh, riuh-rendah kicau mereka justru makin menenangkan jiwaku, membawaku terbang tinggi kepada hadirat Tuhanku.

Sungguh sebuah pengalaman yang tak terkatakan. Sebuah anugerah, karena tak mungkin seorang pendosa sepertiku bisa menikmati orkestra surgawi yang dibawakan oleh burung-burung gereja itu kalau Dia tak mengijinkannya.Kalau tidak, tentu aku akan melewatkannya, dan seperti kebanyakan orang, aku hanya akan menganggap kicauan burung-burung itu sebagai sebuah peristiwa yang alami, yang wajar, yang biasa.

Mungkin sebagian orang akan berkata bahwa menikmati hal-hal seperti itu hanya masalah perspektif, namun benarkah demikian? Tidak bagiku. Ada berapa banyak orang yang dilahirkan tuli sehingga tidak bisa mendengarkan suara apapun, termasuk kicauan burung-burung gereja itu? Ada berapa banyak orang yang terlalu sibuk dengan urusan-urusan hidupnya, sehingga tak pernah sempat (atau menyempatkan diri) untuk menikmati hidup itu sendiri? Ada berapa banyak orang yang hatinya terlalu bising dengan segala kekuatiran, kecurigaan, dan kebencian, sampai-sampai tak sanggup melihat indahnya kehidupan?

Benarlah apa yang dituliskan oleh Pengkhotbah, "sebab siapakah dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?" Tanpa Tuhan, tak ada seorangpun yang dapat merasakan kenikmatan. Dunia ini hanya bisa menawarkan kenikmatan-kenikmatan imitasi yang tak ubahnya seperti air laut, melimpah, namun sama sekali tak bisa menawar dahaga. Air laut itu makin diminum justru memperbesar rasa haus kita! Ibaratnya, ribuan liter kenikmatan "air laut" yang ditawarkan dunia itu kalah nikmat dibandingkan segelas kenikmatan "air putih" yang dari Tuhan.

Apakah yang sedang kau kejar dalam hidupmu yang sekejap itu? Pastikan kamu mengejar apa yang benar-benar nikmat dan memberikan kepuasan sejati. Pastikan kamu mengejar pengenalan akan Dia yang adalah Sumber Kenikmatan itu. Dengan demikian, kamu takkan perlu menghabiskan banyak waktu, uang, dan tenaga, untuk menikmati hidup ini, seperti yang dilakukan kebanyakan yang merasa bisa hidup sendiri di luar Dia. "Urip iku mung mampir ngombe," demikian bunyi pepatah Jawa. Hidup itu sekedar mampir (sebentar untuk) minum.

Pertanyaannya, air manakah yang akan kamu minum? Air laut yang ditawarkan dunia, ataukah air putih yang ditawarkan Tuhan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar