Laman

Dua Sisi Mata Uang

Bisa beli kerupuk berapa truk ya? :)
Dalam salah satu perenungan saya tentang uang, saya mengambil kesimpulan sederhana, yakni uang bisa memperkaya seseorang. Akan tetapi, sebagaimana ia memiliki dua sisi, ada pula sisi lain dari uang, yakni bisa mempermiskin kemanusiaan seseorang. Manusianya semakin kaya, namun bersamaan dengan itu, kemanusiaannya merosot.

Sila kedua dari Pancasila mengamanatkan "Kemanusiaan yang adil dan beradab." Hal itu berarti bahwa kita sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (yang adil dan beradab). Sebagai warga negara Indonesia, kita diharapkan untuk bisa menjadi manusia seutuhnya, yakni manusia yang "berperikemanusiaan."

Uang, sama seperti produk buatan manusia lainnya, adalah benda yang netral. Ia sudah memiliki kegunaannya sendiri, yakni sebagai alat transaksi. Sebagai benda yang netral, uang bisa dipakai untuk kejahatan maupun kebaikan. Dan sebagaimana benda-benda materi lainnya, uang seharusnya digunakan untuk mendukung kemanusiaan.

Akan tetapi, ada saja orang yang "melanggar batas." Mereka adalah orang-orang yang "mencintai uang," dan karena kecintaannya terhadap uang tersebut, melakukan berbagai-bagai kejahatan. Dan apakah kejahatan itu, kalau bukan pengingkaran terhadap kemanusiaan, yang notabene selalu penuh kebaikan?

Demi mendapatkan uang banyak, orang seakan-akan berlomba-lomba korupsi. Berbagai proyek diluncurkan. Nilai proyek sengaja dibuat besar, namun dengan standar kualitas pas-pasan. Harapannya, selisih anggaran bisa "dimainkan." Kontraktor pun ikut serta dalam pusaran ini. Maka bersepakatlah mereka, membuat proyek-proyek milyaran dengan kualitas ratusan juta. Siapakah yang harus menanggung resikonya? Rakyat. Manusia. Masih ingat kasus jembatan Tenggarong?

Demi mendapat "uang rokok," aparat rela "menjual" kemanusiaan mereka dan menjadi (maaf) "anjing penjaga" perusahaan-perusahaan besar, dan siap "memangsa" siapapun yang mengancam keberadaan majikan mereka. Agar dapat tetap bekerja dan memperoleh gaji, seorang karyawan rela "menjual" kemanusiaannya dan menjadi "pesuruh" perusahaan: memanipulasi angka-angka. Demi mendapatkan uang besar agar bisa menjaga penampilan, seorang mahasiswi rela "menjual" kemanusiaannya kepada pria-pria hidung belang. Manusia yang terhormat terdegradasi menjadi sekedar "boneka seks bernyawa."

"Cinta uang adalah akar segala kejahatan," demikian tulis Paulus dalam salah satu suratnya. Jika kita mencintai manusia, maka kita akan menggunakan uang untuk menolong sesama manusia. Sebaliknya, jika kita mencintai uang, maka kita akan memanfaatkan sesama kita untuk memperoleh uang lebih banyak lagi, dan lagi, dan lagi....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar