Laman

Kita dan Dosa - Eksposisi Yusuf (3)

Sebagaimana diceritakan dalam Alkitab, Yusuf memiliki wajah dan penampilan yang menarik, selain karakternya yang baik dan otaknya yang cerdas. Sosok pemuda idaman pemudi, bukan? Maka, tak begitu mengejutkan jika istri Potifar kemudian menaruh hati padanya. Mungkin faktor kesepian akibat sering ditinggal "berdinas" oleh sang suami membuat istri Potifar makin menaruh hati kepada Yusuf. Apalagi, Yusuf tentulah sering berpapasan atau bertatap muka dengannya. Witing tresno jalaran soko kulino, begitulah pepatah Jawa untuk rasa cinta yang tumbuh akibat sering berinteraksi.

Sayangnya kita tahu, dan semua orang atau budaya yang mengenal lembaga pernikahan tahu, bahwa cinta istri Potifar kepada Yusuf adalah cinta terlarang. Tapi istri Potifar tidak peduli. Ia adalah istri seorang Kepala Pengawal, mungkin juga dibesarkan dalam lingkungan kerajaan atau setidaknya berasal dari keluarga bangsawan yang belum pernah mendengar kata "tidak." Ia juga tak memiliki iman kepada Tuhan kudus, sehingga standar moralnya adalah keinginannya sendiri. Berkali-kali ia menggoda Yusuf untuk mau tidur dengannya, dan makin ditolak, ia pun makin "penasaran."

Hingga hari itu tiba. Pagi itu, semua orang di rumah sedang pergi ke luar. Yusuf datang seperti biasa untuk mengerjakan tugasnya. Kesempatan emas, demikian pikir wanita itu. Diapun bersiap-siap, berdandan dan menghias kamar tidurnya. Rasa penasarannya telah mencapai puncak. Nafsunya menggelegak. Sayangnya, sekali lagi, ia ditolak! Pemuda rupawan itu bukannya mengiyakan, malah kabur, meninggalkan baju yang tadi ia pegang erat. Kerinduannya berubah menjadi amarah yang bergejolak, dan ia pun berteriak!

Sambil membawa baju Yusuf sebagai "barang bukti," ia menceritakan kebohongan tentang pemuda yang tadinya diinginkannya dengan sangat. Skenario palsu pun dibuat. Yusuf--orang yang tidak bersalah--dikisahkannya sebagai penjahat. Hasilnya kita tahu, Yusuf segera ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan. Tak ada pengadilan, tak ada kesempatan untuk membuat pembelaan. Hal yang wajar, mengingat statusnya sebagai budak belian.

Setelah itu, kita tidak mendapat informasi lagi tentang kehidupan istri Potifar. Tapi itu bukan hal yang penting. Yang perlu kita pelajari dari kisah istri Potifar ini adalah bahwa keinginan jahat yang dituruti akan membuahkan dosa, dan bahwa dosa itu tak hanya merugikan diri sendiri, namun orang lain juga. Jika kita tidak terbiasa untuk "mengerem" keinginan-keinginan daging kita, bisa jadi kita akan menjadi seperti istri Potifar. Kita bisa jadi memanfaatkan posisi dan kedudukan kita untuk menjatuhkan orang-orang yang tidak kita sukai--entah ke dalam dosa (perzinahan, dalam kasus istri Potifar), ataupun ke dalam penjara (kesusahan).

Satu hal kecil lagi, kira-kira bagaimana ya perasaan istri Potifar itu ketika si budak yang difitnahnya kemudian menjadi tangan kanan Firaun, raja Mesir, yang notabene adalah bos dari suaminya? Pasti dia takut sekali kalau-kalau kejahatannya diungkap oleh Yusuf! Tapi untungnya, Yusuf tidak mempermasalahkan hal itu. Nah, bagaimana nasibnya, seandainya Yusuf adalah orang yang pendendam? Hmmm....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar