Laman

Hujan Lebat Tadi Sore





Aku sudah hampir sampai di kantor sehabis makan siang dengan salah seorang kawan baik. Kawan lama juga sih, karena kami sudah berteman sejak masih "unyu-unyu" semasa SMP. Seperti pertemanan kami, hal-hal yang baik cenderung bertahan lama. Aku percaya itu. Dan kuharap banyak orang percaya hal yang sama. Percaya, bahwa kebaikan tidak pernah sirna ataupun sia-sia.

Akan tetapi, untung tak dapat kuraih, malang tak mampu kutolak. Hujan turun begitu lebat tadi sore. Titik-titik air hujan berjatuhan dengan riuhnya. Tak hanya basahnya menembus jas hujan yang kukenakan, pekatnya juga mengurangi jarak pandangku ke depan. Dingin. Tanganku mulai terasa pegal. Mau berhenti tanggung rasanya, karena jarak ke kantor tinggal sejengkal. Akupun perlahan melaju. Maklum, ibukota biasanya memang macet di kala hujan.

Hujan lebat. Ada beberapa hujan lebat yang pernah kulalui dengan sepeda motor dan masih kuingat. Pertama, waktu turun dari Kaliurang, Jogja. Waktu itu, aku nekat meluncur turun tanpa jas hujan, tentu setelah barang-barang berharga kuamankan di bawah jok. Butiran-butiran air hujan menggigiti tubuh dan wajahku. Mataku harus menyipit agar bisa memperhatikan jalanan.

Yang kedua, ketika aku dan istriku melakukan "urban trip" pertama (dan terakhir!) kami ke Jakarta. Hujan menemani kami hampir di sepanjang perjalanan malam itu. Ketika memasuki Cirebon, listrik seluruh kota ternyata sedang padam. Praktis, kami hanya mengandalkan pencahayaan dari lampu sepeda motor dan dari kendaraan-kendaraan lain yang jarang terlihat. Meski berat dan melelahkan, perjalanan itu tetap terasa indah, karena kami melewatinya bersama-sama. Kebersamaan adalah kunci untuk menikmati sebuah perjalanan.

Tentu ada pula perjalanan di tengah hujan lebat lain yang pernah kulalui, dan masih ada yang belum kuceritakan di sini. Tapi yang jelas, ada sedikit yang kupelajari dari hujan lebat sore ini. Hidup inipun terkadang mengalami hujan lebat, situasi yang tidak ideal (kecuali bagi anak-anak yang ingin bermain dengan hujan). Perjalanan kita sedikit terganggu dengan adanya titik-titik air yang membasahi tubuh dan mengurangi jarak pandang kita.

Di masa-masa hujan lebat, ada dua pilihan: mencari tempat berteduh, atau tetap melaju dengan mengurangi kecepatan. Jika kebetulan tidak membawa jas hujan, tentulah kebanyakan pengendara motor memilih untuk berteduh (kecuali yang "nekad" seperti diriku ketika di Jogja, hehehe...). Yang membawa jas hujan biasanya akan memilih untuk meneruskan perjalanan meski hanya bisa melaju pelan.

Hujan tak selamanya lebat, kawan. Ia akan reda dengan sendirinya. Mungkin saja, ia terasa lama karena kita ingin segera tiba di tujuan kita. Namun sesungguhnya, durasinya tak pernah lebih lama dari hidup kita. Dan siapa bilang hujan itu tak menyenangkan? Ia bisa jadi sesuatu yang menyenangkan, jika ada kebersamaan. Jika ada cinta.

Hidup kita mungkin sedang dilanda hujan lebat, selebat hujan yang mendera negeri ini. Namun yakinlah, bahwa hujan lebat itu pasti berubah menjadi gerimis, dan gerimis itu akan pergi juga, meninggalkan kita yang tetap bertahan. Ketika hujan itu berhenti, itulah saatnya bagi kita untuk melaju kembali: entah pulang, entah pergi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar