Laman

Sterilisasi Jalan


Dalam perjalanan pulang malam ini, aku terpaksa menghentikan kendaraan karena ada dua polisi yang menyetop arus dari arah yang kuambil. Padahal, waktu itu lampu lalu lintas menyala hijau.

Tak butuh waktu lama untuk menyadari apa yang sedang berlangsung, karena dari kejauhan, suara banyak sirine terdengar meraung-raung, lengkap dengan lampu-lampunya yang meramaikan malam. "Pasti ada orang penting yang mau lewat, tapi siapa?" Demikian pikirku.

Berbagai kendaraan dengan sirine yang dibunyikan keras-keras lewat di depan kami. Aku mengawasi nomor polisi tiap mobil yang berlalu, dan tak berapa lama lewatlah mobil sedan hitam dengan nomor plat "RI 2." Rupanya Wakil Presiden yang lewat.

Setelah iring-iringan kendaraan Wapres itu berlalu, barulah kedua polisi tadi membiarkan kami kembali melaju, menuju simpul-simpul kemacetan yang sudah menjadi bagian dari "kehidupan lalu-lintas" kami.

Berbagai pertanyaan menggelitik pun terbersit: mengapa pejabat negara hampir selalu dikawal dan jalan-jalan yang akan dilalui rombongannya "dibersihkan" terlebih dahulu? Apakah sekedar untuk menunjukkan, bahwa ada orang penting yang sedang lewat, ataukah demi keamanan dan keselamatan sang pejabat?

Sesampainya di rumah, aku makan malam bersama istri. Dalam obrolan makan malam itu, rombongan Wapres itu menjadi salah satu bahan pembicaraan. Aku teringat dengan kisah terkenal yang terjadi dua ribu tahun yang lalu, yakni tentang Yesus yang memasuki Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai.

Yesus waktu itu bukanlah pejabat, jadi Dia tak mendapat "fasilitas" pengawalan dari negara. Bahkan "kendaraan" yang Dia naiki pun hanya berstatus pinjaman. Yesus memasuki kota Yerusalem yang ramai waktu itu hanya diiringi oleh beberapa orang "ndeso" yang direkrutNya. Tak ada kemegahan apapun. Tak ada protokoler.

Namun apa yang terjadi? Alkitab menceritakan kepada kita bahwa seluruh penduduk Yerusalem menyambut Yesus dengan meriah. Orang-orang melemparkan jubahnya ke jalan yang akan dilaluiNya. Mereka melambai-lambaikan dedaunan sambil bersorak-sorai. Jalan yang akan dilewati Guru penunggang keledai itu bersih dengan sendirinya, tanpa protokoler.

Dua ribu tahun yang lalu, rakyat yang sedang berada dalam kesesakan akibat dijajah bangsa asing mendapatkan figur penyelamat dalam diri Seorang Guru yang kontroversial dengan pengajaran dan mujizat-mujizat yang dilakukanNya. Itulah mengapa mereka berteriak, "Hosana," yang artinya "Datang dan selamatkanlah kami."

Dua ribu tahun kemudian, sebuah bangsa ribuan kilometer jauhnya sedang berada dalam kesesakan yang ironisnya diakibatkan oleh saudara-saudara sebangsanya sendiri. Hampir-hampir tak ada lagi figur yang bisa dijadikan sebagai penyelamat mereka, sampai-sampai pejabat yang mau bergaul dengan rakyat biasa--yang memang sudah seharusnya--dipuji sedemikian rupa.

Dulu, Yesus tak perlu pengawal atau protokoler untuk men-steril-kan jalanan. Sekarang, seorang Wapres membutuhkan protokoler dan pengawalan ekstra untuk memastikan tak ada masyarakat yang menghalangi jalan. Dulu, rakyat dengan sukarela menepi dan memberikan penghormatan kepada Mesias. Sekarang, rakyat (baca: aku) dengan terpaksa berhenti dan bahkan menginginkan rombongan pejabat itu segera berlalu!

Ya, mungkin ini perbandingan yang hiperbolis atau berlebihan, namun tetap layak untuk diselami. Pemimpin sejati akan mendapat simpati dan hormat dari rakyatnya tanpa paksaan. Sedangkan pemimpin semu membutuhkan banyak kekuatan (militer) untuk mendapatkan ketundukan rakyatnya. Pemimpin sejati akan memenangkan hati rakyat, sedangkan pemimpin palsu hanya akan mendapatkan rasa takut mereka. Kecuali, tentu saja, para penjahat dan penjilat. Mereka tak bisa dikategorikan sebagai "rakyat."

Di sisi lain, jika kita memang mengakui seseorang sebagai pemimpin kita, tentunya kita akan memberikan hormat dan ketundukan kita kepadanya dengan sukarela, bukan? Sikap kita kepada seseorang menentukan seberapa besar pengaruhnya terhadap hidup kita. Begitu pula halnya dengan Tuhan. Pertanyaan berikut bisa menjadi perenungan kita: Ketika Tuhan mau lewat di jalan-jalan hati kita, akankah kita dengan sukarela (dan sukacita) menepi dan memberikan penghormatan, ataukah Dia harus menggunakan protokoler untuk memaksa kita berhenti dan menepi? Apakah kita benar-benar adalah "rakyat" Tuhan, ataukah justru penjahat yang seringkali melanggar hukum-hukum-Nya dan menentang otoritas-Nya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar