Laman

Merangkul Kearifan Lokal - Mampir di Atena (5)



Sekejap mampirnya Paulus di Atena ini memang sangat tepat menggambarkan sebuah pelayanan pengabaran Injil yang kontekstual, artinya, yang merangkul kearifan lokal. Paulus tidak serta-merta mengacungkan telunjuknya kepada orang-orang di Atena sembari berteriak bahwa mereka semua adalah orang-orang kafir. Selain tidak etis secara sosial, tindakan ekstrem seperti itu hanya akan menjadi blunder bagi berita yang ia bawa, sebaik apapun itu. Penolakan bukan saja hanya akan datang dari penduduk Atena, melainkan juga dari rekan-rekan sepelayanannya.

Meskipun kita baca bahwa penyembahan berhala yang ada di Atena membuat Paulus sangat bersedih dan bahkan gusar, ia tak lantas menolak mentah-mentah semua "produk budaya" bangsa pagan itu. Memang, penyembahan berhala haruslah ditinggalkan karena tidak sesuai dengan iman Kristen, akan tetapi kita membaca bahwa Paulus tidak segan mengutip pernyataan pujangga Yunani yang selaras dengan kitab suci. Di sinilah perlunya pimpinan Roh Kudus agar hikmat Tuhan sendirilah yang memimpin kita dalam memilih dan memilah, manakah dari produk-produk tradisi dan budaya yang masih bisa dipertahankan dan manakah yang harus ditinggalkan karena tak bersesuaian dengan kitab suci.

Tanpa pimpinan dan hikmat dari Roh Kudus, kita bisa terjatuh pada sikap ekstrem, yakni menolak sama sekali semua produk budaya setempat, mencapnya sebagai budaya yang tidak alkitabiah, lalu berupaya menggantinya dengan produk budaya kita yang kita anggap lebih rohani, alias lebih berkenan di hadapan Tuhan. Sebaliknya, kita juga bisa tanpa sadar terperangkap ke dalam sikap ekstrem lainnya, yakni mengaminkan begitu saja semua tradisi dan kebudayaan setempat dengan alasan bahwa Tuhan juga berkarya di kebudayaan-kebudayaan masyarakat pagan. Memang benar bahwa Tuhan pastinya punya andil dalam tiap kebudayaan, namun bukan berarti bahwa semua produk budaya berasal dari Tuhan, bukan?

Roh Kudus akan menolong kita, pertama-tama untuk memiliki sikap yang tepat dalam menghadapi tradisi atau kebudayaan "lain", dan setelah itu, untuk memilah mana saja produk budaya yang bisa diterima--entah mentah-mentah ataupun dengan sedikit perubahan di sana-sini--dan mana saja tradisi dan budaya yang, karena tak bersesuaian dengan firman Tuhan, harus ditolak. Tradisi suku di pedalaman Papua yang membuang anak yang buruk rupa ketika lahir , misalnya, haruslah diupayakan agar tidak dilestarikan, alias dihentikan/dihapuskan. Demikian pula, misalnya, dengan kebiasaan berpesta yang berlebihan yang telah menjadi tradisi di sebagian kebudayaan negeri ini.

Setiap daerah pasti memiliki kearifan lokalnya sendiri yang bisa dirangkul sebagai jalan masuk untuk memperkenalkan kebenaran. Jika rasul Paulus menggunakan kutipan pujangga setempat yang dihormati untuk menjembatani jurang komunikasinya dengan penduduk Atena, lantas apa ya kira-kira kearifan lokal di tempat kita masing-masing, yang bisa digunakan untuk memperkenalkan Kabar Baik itu kepada para orang-orang di sekitar kita?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar