Antara Mitologi dan Kitab Suci - Mampir di Atena (3)


Dan, pemberitaan Paulus pun berlanjut. Setelah mengingatkan kepada penduduk Atena bahwa Allah yang sejati itu "self-sufficient," sehingga tidak tinggal di dalam bangunan buatan manusia atau memerlukan sedikit pun pelayanan dari manusia, sang rasul kemudian mengisahkan kepada mereka semua mengenai sejarah atau asal-usul manusia. Ia menarasikan bagaimana Tuhan membuat seluruh umat manusia dari satu orang saja. Narasi penciptaan dari kitab Kejadian tersebut "kebetulan" mirip dengan dua mitologi besar Yunani mengenai asal mula umat manusia, yakni Pelasgus yang lahir langsung dari bumi dan Phaenon yang diciptakan oleh Prometheus dari tanah liat.

Dari manakah sang rasul itu mengetahui adanya kisah yang serupa, yang bisa dijadikan sebagai "jembatan" untuk memberitakan Injil? Kita tidak tahu secara pasti. Bisa jadi, jauh di Yerusalem sana, Paulus memang adalah seorang pemuka yang rajin menyelidiki pandangan-pandangan lain, terutama yang diceritakan oleh orang Yahudi dari daerah-daerah sekitar Atena yang datang ke Yerusalem untuk beribadah. Mungkin pula, Paulus belajar dari penduduk Atena sendiri atau sekali-dua kali ia mengikuti "kuliah umum" yang dibawakan oleh pengajar-pengajar Yunani.

Bagaimana bisa, mitologi Yunani memiliki kemiripan dengan kisah-kisah di dalam kitab suci? Tak hanya asal manusia yang dari tanah, namun juga adanya air bah untuk menghukum seluruh bumi. Dan, bukan hanya Yunani, bangsa-bangsa lain pun memiliki mitologi yang mirip dengan itu. Beberapa ahli menyatakan bahwa Musa "menyontek" kisah-kisah yang berkembang pada zamannya, dengan kata lain, mereka menyangkal validitas Alkitab sebagai kitab yang diinspirasikan oleh Allah sendiri. Sebagian orang memang berupaya 

Akan tetapi, ada yang berbeda. Allah Alkitab memiliki narasi yang lebih jelas dan "jangkauan"-Nya pun lebih panjang dibandingkan Allah yang lain. Allah Israel tak hanya menciptakan langit dan bumi kemudian membuat segala sesuatu berjalan "otomatis," melainkan terus berkarya di dalam kehidupan umat-Nya. Allah Israel tak hanya berhenti di sebuah titik sejarah mitologis, melainkan terus-menerus merenda sejarah manusia. Adapun kisah-kisah yang mirip dengan kisah Alkitab, bisa kita pahami sebagai efek dari tersebarnya keturunan Nuh ke seluruh penjuru bumi. Kisah yang diceritakan oleh masing-masing anak Nuh kepada keturunan mereka sangat mungkin mengalami distorsi sesuai dengan perkembangan kebudayaan, politik, dan ekonomi lokal--termasuk di Yunani.

Allah yang sejati, Allah yang terus berkarya dalam kehidupan itulah yang diberitakan oleh sang rasul kepada penduduk Atena. Paulus tak hanya menggambarkan kepada penduduk Atena tentang Allah yang menciptakan umat manusia dari satu manusia pertama, melainkan Allah yang juga menentukan musim-musim (yang teratur) bagi tiap kediaman manusia. Lebih lanjut, ia menggambarkan lagi, "Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada" (Kis. 17:27b-28a). Ia juga mengutip perkataan pujangga Stoa, Aratus, "Sebab kita ini keturunan Allah juga." Bertolak dari situ, sang rasul memberikan pemaparan logis bahwa dengan keberadaan manusia sebagai "keturunan Allah," maka pemikiran bahwa Allah yang ilahi itu ada di dalam patung-patung buatan manusia haruslah ditinggalkan.

[bersambung]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar