Laman

Mengenal Allah yang Sejati - Mampir di Atena (2)

Rasul Paulus mengawali pemberitaannya dengan menunjukkan penghargaannya terhadap ketekunan orang-orang Atena dalam beribadah. "Aku melihat bahwa kalian begitu religius," demikian kata sang rasul. Paulus kemudian mengungkap bahwa saking religiusnya bangsa itu, sampai-sampai ada sebuah altar yang ditujukan kepada "Allah yang tidak dikenal." Meski memiliki atau menyembah banyak "tuhan", jauh di dalam lubuk hati orang-orang Atena terdapat sebuah keraguan. Altar kepada Allah yang tidak dikenal itu menunjukkan bahwa jiwa mereka gelisah. Gelisah karena belum bertemu, apalagi mengenal Allah yang sejati.

C.S. Lewis pernah menyatakan, "Kamu bukan memiliki jiwa. Kamu adalah jiwa. Kamu memiliki tubuh." Kita adalah jiwa-jiwa yang bersifat kekal, yang berdiam di dalam tubuh-tubuh yang fana. Oleh karenanya, semua manusia pasti memiliki "sense of eternity," atau kesadaran akan kekekalan. Manusia bukanlah hewan atau tumbuhan, yang bertindak sesuai naluri untuk hidup dan berkembang biak. Manusia juga memperhitungkan aspek kekekalan dalam tindakan-tindakan yang diambilnya. Aspek kekekalan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Ada yang melakukan sesuatu untuk meninggalkan nama baik, demi anak-cucu (generasi selanjutnya), agar "reinkarnasi"-nya lebih baik, ataupun agar terhindar dari neraka dan masuk surga.

Selain "sense of eternity," kita juga memiliki "sense of transendence," alias kesadaran akan transendensi--bahwa ada "sesuatu" yang jauh lebih besar dan berkuasa daripada kita semua. Itu sebabnya, tiap kebudayaan di dunia selalu berkaitan dengan hal-hal yang gaib, yang misterius, yang tak terjangkau oleh panca indera. Dalam kebudayaan Barat kuno, nasib atau takdir begitu ditakuti, dianggap lebih berkuasa daripada manusia. Itu sebabnya, kita mendapati apa yang disebut dengan (drama) tragedi. Alur cerita utama dalam tragedi adalah tokoh utama yang berupaya menjauhi takdir (biasanya berupa ramalan yang buruk tentang dirinya), namun di ujung petualangannya, takdir itu tak terelakkan dan ia gagal menghindarinya--entah mati, buta, atau yang lainnya.

Paulus melanjutkan pemberitaannya dengan mengatakan sebuah kalimat yang bagi sebagian orang akan disebut sebagai "kelewat percaya diri." Ia menyatakan bahwa "Allah yang tidak dikenal" itulah yang diberitakannya, yakni Pribadi Mahakuasa yang menciptakan bumi beserta isinya. Wah, pastilah orang-orang Atena itu makin penasaran. "Pelancong" ini ternyata memiliki informasi tentang Allah yang tidak mereka kenal. Paulus pun melanjutkan pidatonya dengan menjelaskan kepada mereka, bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi tidak mungkin tinggal di dalam kuil-kuil buatan manusia, juga tidak memerlukan apapun dari manusia, mengingat Dialah Sumber dari segala sumber.

Paulus memperkenalkan kepada orang Atena sesosok Ilah atau Sesembahan yang mutlak, berdaulat, dan independen. Sesosok Pribadi yang memang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Paulus tahu, bahwa selain tekun beribadah, penduduk Atena adalah orang-orang yang "berpikir," yang berfilsafat. Ia dengan cerdik mengontraskan cara ibadah mereka dan logika tentang Allah yang berdaulat. Allah yang adalah sumber segala sesuatu, tidak mungkin membutuhkan apapun dari ciptaan-Nya. Ia adalah Pribadi yang mencukupi Diri-Nya sendiri, tak terkurangi, tak tertambahkan. Oleh karenanya, menganggapNya berdiam di dalam kuil-kuil buatan manusia atau membutuhkan sesuatu dari manusia merupakan pemikiran yang keliru.

Di masa kini, pemikiran yang kurang tepat tentang Allah itu sepertinya masih lestari. Bisa jadi, itu karena "warisan" dari kepercayaan nenek moyang yang diwariskan lewat produk tradisi dan budaya (tarian, nyanyian, peribahasa, kisah kepahlawanan, dan sebagainya), sehingga tanpa sadar hal itu ikut mempengaruhi kita dalam beribadah. Contoh paling mudah adalah masih ada (semoga tidak banyak atau makin berkurang) orang Kristen yang merasa tidak yakin akan keselamatan jiwanya setelah mati kelak. Padahal, untuk memastikan bahwa semua orang yang percaya bisa memperoleh hidup yang kekal itulah, Yesus turun ke dunia dan memberikan nyawa-Nya di Golgota! Itu mirip dengan orang Atena ribuan tahun lalu yang masih ragu akan "nasib"-nya setelah mati, sampai-sampai membuat "Altar cadangan," kalau-kalau yang mereka sembah bukan tuhan yang sebenarnya.

Bagaimana dengan kita saat ini? Adakah ibadah-ibadah yang kita lakukan (seperti ke gereja, berdoa, memberikan persembahan, beramal, terjun dalam kegiatan-kegiatan pelayanan, dan sebagainya) adalah wujud dari antisipasi atas ketidakpastian hidup setelah mati? Ataukah kita melakukan itu semua sebagai cerminan "gaya hidup penghuni surga"? Adakah kita masih terus berupaya untuk "membeli" kasih karunia Allah? Adakah kita masih beribadah seperti orang Atena pada masa Paulus itu, yang tidak mengenal Allah, yang tidak memiliki "privilege" untuk mengenal Dia lewat Kristus dan Alkitab?

[bersambung]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar