Laman

Mampir di Atena



Dalam salah satu perjalanannya, Paulus harus menunggu rekan-rekannya di Atena, Yunani. Atena pada waktu itu adalah sebuah kota metropolitan yang sangat terkenal oleh budaya dan tradisi pagan, alias penyembahan berhala, yang sangat kental. Laporan pandangan mata yang dituliskan oleh Lukas dalam kitab Kisah Para Rasul bisa memberikan petunjuk kepada kita mengenai bagaimana kondisi kota Atena pada waktu itu.

Lukas menuliskan bagaimana Paulus begitu sedih ketika mendapati bahwa kota Atena penuh dengan patung-patung berhala (Kis. 17:16). Hati Paulus bukan hanya "sedih," melainkan "begitu sedih." Terjemahan versi King James bahkan menuliskan bahwa pemandangan di Atena itu "menggusarkan roh" Paulus. Boleh dibilang, Paulus marah! Ia tidak bisa menerima bahwa masih ada orang yang disesatkan oleh penyembahan berhala.

Jika kita berada di dalam posisi Paulus, mungkin respon kita akan jauh berbeda. Mungkin, kita akan sibuk melihat-lihat keindahan kota Atena dengan patung-patungnya yang dibuat dengan keterampilan seni yang mumpuni. Adapun ritual-ritual keagamaan yang dilakukan oleh orang-orang Atena pada waktu itu adalah hal yang biasa dan tak perlu dicampuri. Toh, kita cuma "mampir" di Atena, cuma menunggu Silas dan Timotius. Untuk apa capek-capek mencampuri urusan penduduk lokal?

Sebagian dari kita mungkin akan bersikap lain lagi. Kita hanya akan memandang semua aktivitas pagan itu dengan tatapan sinis. "Lihat betapa sesatnya mereka!" Mungkin itu yang akan kita pikirkan, sambil menepuk dada karena kita telah mengenal iman yang sejati. Atau, mungkin kita menjadi tidak tahan dengan kesesatan di Atena dan memilih untuk berpindah ke kota lain yang "mendingan."

Akan tetapi, respon hati Paulus sungguh luar biasa. Ia gusar dengan penyembahan berhala, dan ia tak mau menghabiskan waktu luangnya untuk "cuti" sembari menikmati keindahan kota Atena. Lukas mencatat, Paulus segera pergi ke tempat-tempat yang memungkinkan untuk bertukar pikiran. Di pasar, di rumah ibadah, di mana saja ada yang bisa diajak "berdebat." Pada waktu itu, lapor Lukas, penduduk Atena tidak memiliki kegiatan lain selain mendengar atau menceritakan hal-hal dan pengajaran-pengajaran baru. Tak heran, Yunani merupakan tempat lahirnya para filsuf dan pemikiran-pemikiran besar dunia.

Gentarkah Paulus dengan "nama besar" orang Yunani dengan segala pemikiran besar yang mereka hasilkan? Lukas mencatat sebaliknya. Paulus bahkan beradu pendapat dengan orang-orang dari golongan Epikuros dan Stoa, yang hingga hari ini masih diajarkan dalam pelajaran-pelajaran sejarah filsafat. Tak hanya berani beradu pendapat, Paulus bahkan melakukannya secara terbuka dan intens, sampai-sampai orang-orang Atena menjadi penasaran dan mempersilakannya untuk berbicara di Aeropagus, sebuah tempat yang dikhususkan untuk semacam kuliah atau seminar publik, untuk menceritakan lebih gamblang dan lebih luas mengenai "paham baru" yang ia usung. Sebuah kesempatan yang tak disia-siakan oleh sang rasul.

[bersambung]


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar