Laman

Piramida Kristus - Mampir di Atena (4)



Adalah wajar jika setiap orang memiliki kerinduan untuk memiliki hubungan yang intim dengan Allah, karena ketika diciptakan pun, manusia mengalami proses yang berbeda daripada ciptaan yang lain. Manusia, sebagaimana dikisahkan di dalam kitab Kejadian, dibentuk oleh Allah dari debu tanah, kemudian dihembusiNya dengan nafas hidup (dalam bahasa aslinya, nafas hidup=ruah, yaitu roh). Jika semua ciptaan lain dibentuk dengan sabda atau perintah, manusia dibentuk langsung oleh tangan Allah dan diberikan kehidupan langsung dari mulut-Nya. Betapa intimnya! Maka tidaklah berlebihan, jika pujangga Yunani menyebut manusia sebagai keturunan Allah juga.

Perkataan pujangga Yunani tersebut menyingkapkan kerinduan terdalam setiap manusia, yakni untuk memiliki hubungan yang paling intim dengan Tuhan. Dan apalagi hubungan yang lebih dekat daripada hubungan antara bapak dengan anaknya? Dan lagi, bukankah itu yang dijanjikan Tuhan kepada umat-Nya (lih. Hos. 1:10), yang kemudian tergenapi di dalam Kristus (lih. Yoh. 1:12, Gal. 3:26)?

Kristus yang telah mati dan bangkit itulah yang selalu menjadi pokok pemberitaan Paulus. Kita bisa membaca kemudian, bahwa kalimat-kalimat yang "panjang dan lebar" itu berujung kepada pertobatan dan kesadaran manusia akan penghakiman Allah yang akan dikerjakan oleh Dia (Yesus) yang telah dibangkitkan dari antara orang mati. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menuliskan inti dari segala kegiatan pelayanan yang ia lakukan dengan sekuat tenaga, yakni bahwa Kristuslah yang diberitakannya, bukan yang lain (Kol. 1:28). Meskipun kebangkitan dari kematian bukanlah konsep yang umum diterima di dalam pemikiran Yunani, hal itu tetap harus diberitakan. Baginya, itu bukanlah sesuatu yang bisa ditawar.

Layaknya sebuah piramida, Paulus membangun dasar argumentasinya sedapat mungkin sesuai dengan alam pemikiran para pendengarnya. Jika ia berada di hadapan umat Yahudi, ia mengisahkan perjalanan sejarah bangsa Israel lalu mengutip ayat-ayat dari Taurat, sebelum akhirnya memperkenalkan Kristus, Mesias yang mereka nantikan. Di Aeropagus, Paulus menggunakan dasar yang sedikit berbeda seperti yang telah kita lihat di atas, yakni logika umum mengenai sifat dasar Allah.

Setelah menumpukkan logika dasar yang dibutuhkan, Paulus menutup pemberitaannya dengan meletakkan "pucuk piramida," yakni Yesus Kristus. Dalam memberitakan Kabar Baik, Paulus tidak pernah melakukannya dengan setengah-setengah. Sang rasul tidak pernah lupa memberitakan pokok dari iman Kristen yang ia imani: Yesus Kristus yang telah mati dan dibangkitkan menjadi Tuhan dan Juruselamat manusia!

[bersambung]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar